Belajar Tasawuf Akhlak dari KH. Nur Kholis Misbah di Al-Amanah Junwangi
Dua bulan mengemban amanah sebagai pembantu kepengasuhan di Pondok Pesantren Modern Al-Amanah Junwangi, Krian, Sidoarjo, menjadi pengalaman yang mengubah cara saya memandang pendidikan pesantren. Saya datang dengan bayangan bahwa tugas pengasuhan berkisar pada kedisiplinan santri, administrasi, dan aktivitas harian. Namun, di bawah asuhan KH. Nur Kholis Misbah, saya justru belajar bahwa pendidikan akhlak jauh melampaui ruang kelas dan lembaran kitab.
Moralitas diajarkan melalui teladan. Tasawuf tidak hanya dibahas dalam kajian, namun diwujudkan dalam cara kita memandang manusia, alam, dan setiap kepercayaan yang ada di sekitar kita.
Pesantren ini memiliki banyak sudut yang menyimpan filosofi. Ada kawasan yang dinamai Mahsyar Madani, tempat para santri ditempa untuk belajar disiplin dan tanggung jawab bersama. Ada pula kawasan bernama McGill. Nama itu diambil dari salah satu universitas ternama di Kanada. Bukan untuk bermegah-megahan, melainkan sebagai doa agar para santri memiliki cita-cita yang luas dan keberanian menatap dunia, tanpa meninggalkan identitas kesantriannya.
Namun, di balik visi besar itu, saya menemukan satu pelajaran yang justru terasa paling mendasar: seseorang tidak akan mampu membawa perubahan besar apabila belum mampu merawat apa yang ada di hadapannya.

Saya mempelajari pelajaran itu suatu malam.
Suasana pesantren mulai lengang. Para ustadz dan pengurus berkumpul di Pendopo Rumekso Ing Wengi. Di tempat sederhana itulah berbagai evaluasi dan nasihat sering disampaikan.
Tak lama kemudian, suara sepeda motor Honda Beat berwarna merah memasuki halaman pesantren. Dari atas sepeda motor itu muncul sosok yang akrab disapa seluruh keluarga Al-Amanah dengan nama sederhana, “Bapak”. Dia adalah KH. Nur Kholis Misbah. Semoga Tuhan mengampuni dia.
Beliau duduk bersama kami. Seperti biasa, pembicaraan dimulai dengan evaluasi mengenai kehidupan pesantren. Tidak ada kesan menggurui. Nasihat beliau mengalir seperti seorang ayah yang sedang berbincang dengan anak-anaknya.
Salah satu pesan yang masih saya ingat adalah saat beliau berbicara tentang niat mengabdi.
“Jangan sampai apa yang kita lakukan di pesantren ini kita lakukan dengan paksaan hati. Lakukan dan niatkan khidmah untuk membina santri, semata-mata demi meraih rida Allah.”
Kalimat itu seakan mengingatkan bahwa tugas seorang pendidik bukan sekadar menyelesaikan pekerjaan, melainkan menjaga keikhlasan agar setiap aktivitas bernilai ibadah.
Namun, malam itu ternyata masih menyimpan pelajaran lain yang lebih membekas dalam ingatan saya.
Ketika pembicaraan beralih pada kebersihan dan taman pesantren, beliau tiba-tiba berkata,
“Saya tahu pepohonan yang kehausan. Makanya saya tidak bisa bepergian jauh, karena selalu kepikiran tumbuh-tumbuhan yang ada di sekitar pesantren ini.”
Kalimat itu terdengar sederhana. Akan tetapi, semakin lama saya renungkan, semakin saya memahami bahwa di sanalah letak hakikat tasawuf yang sesungguhnya.
Ia tidak berbicara tentang teori cinta terhadap alam. Dia menunjukkan bagaimana cinta bekerja dalam kehidupan sehari-hari. Kekhawatiran itu tidak berhenti pada manusia saja, namun meluas pada makhluk Tuhan lainnya, bahkan pada pohon yang tak mampu mengeluh kehausannya.
Saya kemudian memahami mengapa lingkungan Al-Amanah terasa begitu asri. Pohon-pohon tumbuh terawat. Taman-taman bersih. Gazebo-gazebo sederhana menjadi tempat santri membaca kitab, berdiskusi, atau menghafal pelajaran dalam suasana yang teduh.
Keindahan itu bukan semata hasil program kebersihan, melainkan buah dari cara pandang. Ketika seorang pengasuh mencintai lingkungan sebagai bagian dari amanah Allah, kecintaan itu perlahan diwariskan kepada seluruh penghuni pesantren.
Di Al-Amanah saya belajar bahwa pendidikan karakter tidak selalu dimulai dari ceramah yang panjang. Kadang ia lahir dari hal-hal yang tampak sederhana: memungut sampah tanpa disuruh, menyiram tanaman yang mulai layu, menjaga halaman tetap bersih, atau menata lingkungan agar nyaman bagi orang lain.
Semua itu mungkin terlihat sepele. Namun, justru dari kebiasaan-kebiasaan kecil itulah akhlak tumbuh menjadi karakter.
Pengalaman singkat selama berkhidmah di Al-Amanah membuat saya menyadari bahwa tasawuf bukan hanya pembahasan tentang maqamat, ahwal, atau penyucian jiwa dalam kitab-kitab klasik. Tasawuf juga hadir ketika seseorang mampu memandang seluruh ciptaan Allah dengan kasih sayang.
Saya teringat kembali kalimat sederhana yang diucapkan Bapak malam itu.
“Saya tahu pepohonan yang kehausan.”
Barangkali, seseorang baru benar-benar belajar mencintai Allah ketika hatinya telah cukup peka untuk merasakan kebutuhan makhluk-makhluk-Nya, bahkan yang tidak mampu berbicara.
Penulis : M.Hikmal Yazid
PakarPBN
A Private Blog Network (PBN) is a collection of websites that are controlled by a single individual or organization and used primarily to build backlinks to a “money site” in order to influence its ranking in search engines such as Google. The core idea behind a PBN is based on the importance of backlinks in Google’s ranking algorithm. Since Google views backlinks as signals of authority and trust, some website owners attempt to artificially create these signals through a controlled network of sites.
In a typical PBN setup, the owner acquires expired or aged domains that already have existing authority, backlinks, and history. These domains are rebuilt with new content and hosted separately, often using different IP addresses, hosting providers, themes, and ownership details to make them appear unrelated. Within the content published on these sites, links are strategically placed that point to the main website the owner wants to rank higher. By doing this, the owner attempts to pass link equity (also known as “link juice”) from the PBN sites to the target website.
The purpose of a PBN is to give the impression that the target website is naturally earning links from multiple independent sources. If done effectively, this can temporarily improve keyword rankings, increase organic visibility, and drive more traffic from search results.