Oleh : Syaikh Khalid bin Abdul Mun’im Ar-Rifa’i
Ringkasan Pertanyaan:
Ada pemuda yang terhimpit oleh urusan dunia, tidak punya harta atau pekerjaan, ia bertanya, “Apa yang harus saya lakukan?”
Pertanyaan Lengkap:
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Saya pemuda berusia 20 tahun. Saya hidup dalam keadaan yang sulit sekali, dengan masalah-masalah mental, keluarga, dan finansial. Saya tidak ingat pernah mendapatkan apa yang saya inginkan, baik itu dari sisi materi, mental, dan perasaan.
Ayahku tidak peduli dengan kami, tidak memberi bantuan apa pun kepada kami. Dia ada tapi seperti tidak ada. Masa remaja dan masa mudaku penuh kegagalan. Saya tidak bisa sukses karena kondisi finansial dan mentalku.
Saya orang yang pemalu, tidak bisa menghadapi kenyataan dan tidak puas dengannya. Saya selalu melihat diriku lebih rendah dari orang lain. Faktor terpenting yang menyebabkan hal ini adalah karena mataku juling. Namun sekarang, Alhamdulillah setelah semakin dewasa, saya sudah tidak peduli lagi dengan apa pun, meskipun saya masih merasa frustrasi dan putus asa akibat mata juling serta kemiskinan parah ini.
Sekarang saya tinggal bersama salah satu teman, tapi saya tidak bisa memenuhi kebutuhan pokok untuk kehidupanku, bahkan dokter telah menyuruhku membeli kacamata medis, tapi saya tidak mampu membelinya karena tidak punya uang.
Saya sudah mencari pekerjaan ke mana-mana, dan saya sudah berpikir untuk menyerah saja, karena saya hanya pemuda yang tidak punya uang dan ketampanan, tidak berhasil dalam pekerjaan dan pendidikan, dan hidupku tersia-siakan di hadapanku.
Semua temanku mendapatkan bantuan dan dukungan dari keluarga mereka, sedangkan saya sendiri yang semua pintu tertutup di depanku!
Kehidupan telah membuatku hancur lebur. Saya memandang bahwa umur dan harta adalah asas kesuksesan dalam hidup ini. Saya punya keinginan besar untuk belajar, tekad yang kuat, dan kesungguhan. Namun, urusan uang menghalangiku. Apakah saya masih bisa sukses? Apakah menerima bantuan finansial bagi pelajar adalah aib?
Jawaban:
Segala puji hanya milik Allah Subhanahu wa Ta’ala. Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam, juga kepada keluarga, sahabat, dan pengikutnya. Amma ba’du:
Tenangkan dirimu, anakku tercinta! Meski mata pencaharian Anda terbatas. Jangan sedih dan putus asa! Jangan menyerah pada kelemahan, juga bisikan diri sendiri dan iblis! Lawan kesedihan dan sesak dada dengan yakin pada keadilan Allah Subhanahu wa Ta’ala! Andalkan Allah Subhanahu wa Ta’ala saja! Bersabarlah sebanyak yang Anda bisa! Tingkatkan kesalehan Anda, tingkatkan latihan Anda, dan berusahalah! Jangan menyerah pada godaan dan tipu daya iblis! Jauhkan dari diri Anda perasaan gagal! Bersikaplah serius, karena keseriusan adalah salah satu cara terbaik untuk mencapai kebaikan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
Dan orang-orang yang berjihad kepada Kami, niscaya Kami akan memberi petunjuk kepada mereka ke jalan Kami. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang berbuat baik.
“Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh pada jalan Kami, niscaya Kami akan menunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Ankabut : 69).
Nabi SAW bersabda:
Pengetahuan berasal dari pembelajaran, dan mimpi berasal dari mimpi. Siapa yang memperjuangkan kebaikan, maka dia akan diberi kebaikan, dan siapa yang takut kejahatan, dia akan dilindungi darinya.
“Sesungguhnya ilmu diperoleh dengan belajar, dan kesopanan diperoleh dengan melatih diri untuk bersikap sopan. Barangsiapa berusaha mencari kebaikan, niscaya akan diberikan kepadanya. (HR. Ad-Daruquthni. Hasanisasi Al-Albani in Shahih al-Jami).
Wahai anakku! Hilangkan pandangan pesimistis dan pesimistis dengan cara berinteraksi positif dengan orang-orang di sekitar, mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan ikhlas, dan bersikap baik kepada-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam sebuah hadits qudsi:
Aku ada ketika hamba-Ku memikirkan Aku, dan Aku bersamanya ketika dia berseru kepada-Ku.
“Aku sesuai dengan prasangka hamba-Ku terhadap-Ku, dan Aku bersamanya ketika dia berdoa kepada-Ku.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Dan dalam riwayat lain disebutkan:
Jika ia berpikir baik, maka baik, dan jika ia berpikir jahat, maka jahat.
“Jika dia berprasangka buruk, maka baginya baik. Dan jika dia berprasangka buruk, maka baginya buruk.”
Kerjakanlah shalatmu dengan sepenuh hati, hargai Al-Qur’an dan dzikir yang kamu baca, hadirkan dalam hatimu keagungan Tuhanmu, jauhi dunia dan segala hiruk pikuknya, penuh keyakinan bahwa seorang hamba tidak ada kuasa atas dirinya. Allah Subhanahu wa Ta’ala-lah yang menentukan segala sesuatu dengan hikmah dan rahmat-Nya, baik itu kesehatan, rezeki, kenikmatan, kebaikan, musibah, maupun kelangkaan rezeki. Namun, pahalanya akan lebih besar jika dibarengi dengan kesabaran.
Ketahuilah – semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan keselamatan dan lapang dada – bahwa salah satu hikmah Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah menjadikan hari-hari silih berganti dan keadaan selalu berubah. Kesulitan akan diikuti kemudahan, kemiskinan akan digantikan kekayaan, dan seterusnya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
Dan Kami silih berganti hari-hari itu di antara manusia.
“Dan waktu itu (keberhasilan dan kehancuran) Kami putar di antara manusia.” (QS. Ali Imran : 140).
Dan jiwa yang beriman adalah yang bersabar atas kesulitan dan tidak terbuai oleh kesenangan. Ia tetap menghadap kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam dua kondisi itu, yakin bahwa kebaikan dan keburukan yang menimpanya adalah dengan izin Allah.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
Setiap hari adalah tentang sesuatu
“Setiap waktu Dia sibuk (mengelola urusan makhluk-Nya).” (QS. Ar-Rahman : 29).
Allahlah yang menjadikan orang miskin menjadi kaya, memulihkan hati yang terluka, melimpahkan keberkahan kepada suatu kaum dan menjauhkannya dari kaum yang lain, serta yang memuliakan dan merendahkan. Maha Suci Allah Yang Maha Penyayang lagi Maha Pemberi. Dia memberi jalan keluar setelah kesempitan, kemudahan demi kesulitan, keluasan demi keterbatasan.
Wahai anakku! Berusahalah agar pintu-pintu harapan akan berubahnya keadaan selalu terbuka, agar jiwamu tetap tergerak oleh harapan itu, tetap basah oleh asa. Percayalah dengan rahmat, keadilan, hikmah, dan ilmu Allah Subhanahu wa Ta’ala, karena Dialah satu-satunya tempat berlindung yang aman. Janganlah engkau menutup setiap pintu atau mengurung dirimu dalam penjara masa sekarang, karena kondisi masa depan bisa jadi membawa hal yang di luar perkiraanmu.
“Entahlah, bisa jadi setelah itu Tuhan memberikan rezeki baru.” (QS. At-Talaq : 29).
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu. Dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216).
Wahai anakku! Jangan lihat yang diatasmu, tapi lihatlah yang dibawahmu, niscaya kamu akan mengerti betapa nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala yang melimpah untukmu. Anda pasti akan menemukan orang-orang yang keadaannya lebih buruk dari Anda. Ada orang yang lebih miskin dan mempunyai banyak hutang. Meski harta yang ada di tangan Anda sedikit, namun ada orang lain yang kehilangan harta benda, kesehatan, dan anak sekaligus. Bahkan ada pula yang sudah tidak mempunyai tanah air lagi, maka serahkan urusanmu pada Allah Subhanahu wa Ta’ala, niscaya kamu akan selamat.
Tidak diragukan bahwa habisnya kesabaran dan lemahnya diri dalam memikul beratnya kemiskinan adalah kondisi yang menunjukkan kelemahan manusia, tapi janganlah itu menyeretmu kepada keluh kesah, sehingga timbangan nilai-nilai diri menjadi runtuh, dan ini tentu menjadi musibah yang besar, semakin seret rezeki, semakin besar juga ujiannya.
Jika kondisi sangat ketat dan berbagai upaya tidak membuahkan hasil, maka sebenarnya masih ada tempat perlindungan terkuat yaitu Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka larilah kepada-Nya dengan ketaatan, taubat, dan banyak istighfar, karena dapat mendatangkan rezeki, disertai dengan menjauhi segala hal yang menghalangi terkabulnya shalat. Ikhlaslah menghadap Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan berdoa dan berserah diri di saat-saat yang paling penting, misalnya di sepertiga malam terakhir ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala turun ke langit dunia dan berfirman: “Barangsiapa yang berdoa kepada-Ku, maka Aku akan mengabulkannya. Barangsiapa yang meminta kepada-Ku, maka Aku akan mengabulkannya. Dan barangsiapa yang meminta ampun kepada-Ku, maka Aku akan mengampuninya.”
Curahkan segala permasalahanmu di hadapan-Nya, mohon rezeki yang berlimpah dan halal. Tidak akan kecewa, orang yang berdoa kepada-Nya, Tangan-Nya selalu penuh dengan pemberian, tak terkecuali karena memberi. Dia selalu melimpahkan hadiah siang dan malam. Sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari bahwa Rasulullah SAW bersabda:
Pernahkah kamu melihat rezeki yang Dia keluarkan sejak Dia menciptakan langit dan bumi? Sebab Dia tidak mengurangi apa yang ada di tangan-Nya.
“Tidakkah kamu memperhatikan berapa banyak yang telah Dia keluarkan sejak Dia menciptakan langit dan bumi? Sesungguhnya semua itu tidak mengurangi sedikit pun apa yang ada di tangan-Nya.” (HR. Al-Bukhari).
Bacalah selalu doa yang biasa dibaca Rasulullah Sallallahu Alaihi Wassalam ketika hendak berbaring di tempat tidurnya:
Ya Tuhan, Tuhan langit dan Tuhan bumi, Tuhan Arsy yang Agung, Tuhan kami dan Tuhan segala sesuatu, melimpahkan cinta dan niat, dan Pengungkap Taurat dan Injil. Dan Kriterianya, aku berlindung kepada-Mu dari keburukan segala sesuatu yang kamu ambil di sudutnya. Ya Tuhan, Engkaulah Yang Pertama dan tidak ada apa pun sebelum Engkau, dan Engkaulah Yang Akhir dan tidak ada apa pun setelah Engkau. Engkau adalah Yang Termanifestasi, maka tidak ada apa pun yang berada di atas Engkau, dan Engkau adalah Batin, sehingga tidak ada apa pun yang berada di bawah Engkau. Lunasi hutang kami, dan lindungi kami dari kemiskinan.
“Ya Allah, Tuhan langit dan Tuhan bumi, Tuhan Arsy yang agung, Tuhan kami dan Tuhan segala sesuatu, Yang membelah biji-bijian dan kurma, Yang menurunkan Taurat, Injil, dan Al-Furqan (Al-Qur’an). Nyatanya, tidak ada yang lebih tinggi dari-Mu. Engkau Yang Maha Batin, tak ada yang lebih dekat dari-Mu. Lunasi hutang kami dan bebaskan kami dari kemiskinan.”
Adapun menerima bantuan keuangan, baik dalam bentuk hibah maupun zakat, tentu diperbolehkan. Bahkan ada imam dari empat mazhab dan ulama lainnya yang membolehkan pembagian zakat kepada para pencari ilmu, dan hal ini tentu sahih. Dengan demikian, Anda dapat menerima sedekah atau zakat jika Anda tidak memiliki kekayaan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan Anda – seperti yang telah Anda sebutkan – meskipun Anda mampu bekerja. Pendapat ini disebutkan oleh Imam Ibnu Al-Abidin dalam kitabnya Ad-Durr Al-Mukhtar dan Hasyiyah Ibnu Abidin atau Radd al-Muhtar jilid 2 hal. 340: “Tidak boleh mengeluarkan zakat kepada orang yang mempunyai harta yang mencapai nisab, kecuali kepada orang yang mencari ilmu, mujahid di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan orang yang kehabisan bekal dalam perjalanan haji.”
Imam an-Nawawi juga mengatakan Al-Majmu Sharh Al-Muhadzdzab jilid 6 hlm. 190: “Adapun tentang penghasilan, maka para ulama mazhab kami berkata bahwa disyaratkan agar seseorang berhak menerima bagian zakat golongan orang miskin adalah ia tidak memiliki penghasilan yang mencukupi kebutuhan hidupnya, sebagaimana yang telah kami jelaskan terkait harta. Namun tidak disyaratkan ketidakmampuan dalam mencari penghasilan sama sekali. Mereka mengatakan bahwa yang menjadi patokan adalah penghasilan yang sesuai dengan keadaan dan martabatnya. Adapun jika pekerjaannya tidak sesuai dengan keadaan dan martabatnya, maka dianggap seolah-olah tidak punya pekerjaan. Mereka juga berkata bahwa seandainya ia mampu memperoleh pekerjaan yang sesuai keadaannya, tapi ia sibuk menuntut ilmu syariat, sehingga jika ia bekerja maka ia harus berhenti menuntut ilmu, maka halal baginya menerima zakat, karena menuntut ilmu adalah fardhu kifayah.”
Aku memohon kepada Tuhan Yang Maha Pengasih, Maha Mulia, dan Maha Pemurah, agar menghapuskan kesulitanmu, mengentaskanmu dari kemiskinan, dan memulihkan segala kesakitan.
Sumber:
Sumber artikel PDF
🔍 Isi Suhuf Nabi Adam, Hukum Puasa 1 Suro, Doa Ruqyah Syariah, Surat Al Jinn Latin, Jin Islam Sholat
Dikunjungi 190 kali, 5 kunjungan hari ini
Tampilan Postingan: 8
PakarPBN
A Private Blog Network (PBN) is a collection of websites that are controlled by a single individual or organization and used primarily to build backlinks to a “money site” in order to influence its ranking in search engines such as Google. The core idea behind a PBN is based on the importance of backlinks in Google’s ranking algorithm. Since Google views backlinks as signals of authority and trust, some website owners attempt to artificially create these signals through a controlled network of sites.
In a typical PBN setup, the owner acquires expired or aged domains that already have existing authority, backlinks, and history. These domains are rebuilt with new content and hosted separately, often using different IP addresses, hosting providers, themes, and ownership details to make them appear unrelated. Within the content published on these sites, links are strategically placed that point to the main website the owner wants to rank higher. By doing this, the owner attempts to pass link equity (also known as “link juice”) from the PBN sites to the target website.
The purpose of a PBN is to give the impression that the target website is naturally earning links from multiple independent sources. If done effectively, this can temporarily improve keyword rankings, increase organic visibility, and drive more traffic from search results.