Oleh: Ahmad Nashib Ali Husain
Apakah engkau mengetahui bahwa salah satu hal yang paling banyak mempengaruhi pekerjaan, hubungan, prestasi, dan tujuan kita adalah kebiasaan-kebiasaan kita yang telah kita bawa sejak kecil? Sehingga apabila engkau menginginkan keberhasilan di dalam hidupmu dalam semua aspek, maka engkau harus berlepas diri dari kebiasaan-kebiasaan yang dapat menghalangimu dari kesuksesan dan keberhasilan. Berikut ini adalah sepuluh langkah yang dengan izin Allah Subhanahu wa Ta’ala akan membantumu dalam merealisasikan tujuan tersebut:
Langkah Pertama: Kenali Kebiasaanmu
Engkau harus menentukan kebiasaan terpentingmu yang sangat berpengaruh terhadap kehidupanmu, baik itu kebiasaan dalam bekerja, dalam menjalin hubungan dengan orang lain, dengan keluarga, atau dengan diri sendiri. Segala hal yang selalu kamu ulang-ulangi lalu kamu sesali karena telah melakukannya, atau ada orang yang merasa terganggu setelah engkau melakukannya, maka ketahuilah bahwa itu merupakan kebiasaan yang harus kamu tinggalkan.
Langkah Kedua: Fokus pada Satu Kebiasaan Terlebih Dulu
Saya membacanya di majalah An-Nafs Al-Muthmainnah bahwa siapa yang mengejar dua kelinci, maka ia tidak akan dapat menangkap satu pun darinya! Maka siapa yang ingin berlepas diri dari seluruh kebiasaannya sekaligus, pasti ia akan gagal melakukannya. Oleh sebab itu, caranya adalah dengan fokus pada satu kebiasaan dulu dan menjadikannya sebagai permulaan, apabila berhasil, engkau bisa melanjutkannya ke kebiasaan lainnya.
Langkah Ketiga: Jangan Menyerah di Awal
Jika Anda bertekad untuk mengubah kebiasaan Anda, maka cobalah melawan nafsu Anda terlebih dahulu. Jangan katakan: “Hari ini adalah hari libur pertama!” Misalnya Anda sudah bertekad untuk tidak tidur setelah shalat Subuh, maka pada hari ketiga jangan berkata: “Hanya hari ini saya akan tidur!” Namun berusahalah semaksimal mungkin untuk tetap terjaga – meski sangat lelah – agar kebiasaan baru Anda tertanam kuat.
Langkah Keempat: Mulailah dengan Tarif Sangat Rendah
Yang terpenting bukanlah kadarnya, tapi konsistensinya. Mulailah dengan perubahan kecil yang mampu kamu lakukan dengan konsisten. Sebagai contoh, pada dasarnya engkau tidak dapat menikmati kebiasaan membaca, maka carilah dulu buku yang ringan, bacalah buku itu sepuluh menit saja setiap hari, tidak ada lagi tawar menawar pada durasi sepuluh menit ini.
Langkah Kelima: Sampaikan Keputusanmu untuk Merubah Kebiasaan Ini kepada Orang Lain
Sampaikan di hadapan orang yang engkau cintai —seperti sahabat atau teman karibmu— tentang keputusanmu untuk merubah kebiasaan ini, karena pengumuman ini akan membuatmu punya keharusan untuk konsisten, menjadikanmu merasa segan jika harus berhenti di tengah jalan. Sebagai contoh, katakanlah kepada mereka: “Aku sudah bertekad untuk membiasakan olahraga setiap hari selama dua puluh menit.”
Langkah Keenam: Jangan Menyerah
Semua orang berusaha, tapi mayoritas orang terjatuh dan gagal saat berusaha dan terus mengeluh. Namun, hanya orang sukses yang ketika terjatuh akan kembali berdiri, apabila gagal akan kembali bangkit. Ia mengetahui bahwa nikmatnya kesuksesan lebih besar daripada nikmatnya berpangku tangan dan bermalas-malasan. Ia tidak menyerah, tapi justru terus berusaha hingga sampai ke tujuannya, karena ia mengetahui bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjanjikan bagi orang-orang yang berusaha keras bahwa mereka akan mendapatkan petunjuk-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
Dan orang-orang yang berjihad kepada Kami, niscaya Kami akan memberi petunjuk kepada mereka ke jalan Kami. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang berbuat baik.
“Dan orang-orang yang sungguh-sungguh berjuang di jalan Kami, niscaya Kami akan tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Sesungguhnya Allah benar-benar bersama orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Ankabut : 69).
Langkah Ketujuh: Kenalilah Kemampuanmu
Jangan membebani dirimu di atas kemampuannya. Ini merupakan prinsip syariat yang mendasar. Apabila engkau ingin mengubah kebiasaanmu, maka perlakukanlah dirimu dengan lembut, jangan membebaninya dengan kadar yang tidak mampu ia pikul. Apabila engkau ingin ditaati, maka berilah perintah yang mampu dilakukan. Jangan mengira bahwa perubahan dapat terwujud dengan membebani dirimu di atas kemampuannya, karena siapa yang belum terbiasa memperhatikan etika dalam berbicara, ia tidak akan mampu mengubah kebiasaan itu dalam sehari semalam. Sebab, kebiasaan buruk telah tertanam bertahun-tahun, sehingga kebiasaan yang baru juga membutuhkan waktu bertahun-tahun seperti itu sampai ia tertanam dan mudah dilakukan seperti makan dan minum.
Langkah Kedelapan: Semangati Dirimu
Sering-seringlah baca tentang kebiasaan orang-orang sukses, sebab-sebab kesuksesan, metode-metode keberhasilan, kondisi orang-orang sabar dan sejarah hidup mereka yang harum semerbak. Semua itu dapat membantumu untuk memantik kembali semangatmu dan menguatkan tekadmu agar konsisten dalam mengubah kebiasaan-kebiasaanmu.
Langkah Kesembilan: Beri Dirimu Penghargaan
Buatlah tahapan-tahapan dalam proses menuju kebiasaan yang baru. Pada setiap tahapan ada hadiahnya tertentu. Misalnya membaca satu jam setiap hari selama satu minggu penuh ada hadiahnya membeli minuman, membaca satu jam setiap hari selama dua minggu penuh ada hadiahnya membeli makanan di tempat makan tertentu, dan begitu seterusnya. Tentukanlah pada setiap kadar keberhasilan ada hadiahnya yang sesuai. Ini merupakan salah satu metode yang dilakukan oleh beberapa orang.
Langkah Sepuluh: Berdoa
Inilah langkah terpenting yang perlu, selalu memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, karena Allah Maha Penolong, Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu dan Dia berjanji akan mengabulkan doa. Untuk itu shalatlah dengan khusyuk dan amalkan adab yang baik dalam shalat serta hindari hal-hal yang dapat menghambat terkabulnya shalat, seperti memakan makanan yang diharamkan. Ini adalah langkah yang sangat penting, jika Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak membantu anda, maka semua langkah yang telah disebutkan sebelumnya tidak ada gunanya, karena semua itu hanyalah alasan, tidak akan berguna bagi anda kecuali dengan izin dari Sang Pencipta yaitu Allah Subhanahu wa Ta’ala. Memang benar apa yang dikatakan penyair:
Jika tidak ada pertolongan dari Tuhan untuk anak tersebut, maka hal pertama yang harus dilakukan adalah usahanya sendiri.
Ketika seorang pemuda tidak mendapat pertolongan dari Tuhan,
maka hal pertama yang justru menghancurkannya adalah kesungguhan usahanya sendiri.
Sumber:
Sumber artikel PDF
🔍 Isi Suhuf Nabi Adam, Hukum Puasa 1 Suro, Doa Ruqyah Syariah, Surat Al Jinn Latin, Jin Islam Sholat
Dikunjungi 35 kali, 29 kunjungan hari ini
Tampilan Postingan: 3
PakarPBN
A Private Blog Network (PBN) is a collection of websites that are controlled by a single individual or organization and used primarily to build backlinks to a “money site” in order to influence its ranking in search engines such as Google. The core idea behind a PBN is based on the importance of backlinks in Google’s ranking algorithm. Since Google views backlinks as signals of authority and trust, some website owners attempt to artificially create these signals through a controlled network of sites.
In a typical PBN setup, the owner acquires expired or aged domains that already have existing authority, backlinks, and history. These domains are rebuilt with new content and hosted separately, often using different IP addresses, hosting providers, themes, and ownership details to make them appear unrelated. Within the content published on these sites, links are strategically placed that point to the main website the owner wants to rank higher. By doing this, the owner attempts to pass link equity (also known as “link juice”) from the PBN sites to the target website.
The purpose of a PBN is to give the impression that the target website is naturally earning links from multiple independent sources. If done effectively, this can temporarily improve keyword rankings, increase organic visibility, and drive more traffic from search results.