Pengasuhan yang Keliru dan Efek Kerusakannya terhadap Anak – KonsultasiSyariah.com


Pola asuh yang salah…dan kehancuran anak-anak

Membesarkan anak adalah salah satu hal terberat yang dihadapi dan diderita seseorang dalam realitas kontemporer kita. Hal ini disebabkan karena proses pendidikan merupakan suatu proses yang sangat kompleks dan juga sangat penting. Yaitu pembinaan budi, penyucian jiwa, penghalusan akhlak, pengayaan ilmu pengetahuan dan pemahaman, serta pembinaan jasmani dan rohani. Ini adalah proses pembangunan terpadu, pembangunan doktrinal, pembangunan ilmiah, pembangunan moral, pembangunan psikologis, dan pembangunan fisik.

Penitipan anak menjadi beban bagi banyak orang saat ini. Sebab, proses pengasuhan merupakan proses yang sangat kompleks dan mendesak. Sebab pola asuh merupakan pembangun pikiran, pembersih jiwa, pelurus budi pekerti, serta pemberi ilmu dan wawasan yang beriringan dengan perkembangan fisik. Merupakan suatu proses pembinaan yang menyeluruh, baik dari segi akidah, ilmu pengetahuan, akhlak, batin, dan jasmani.

Pendidikan di zaman kita adalah sebuah ilmu dan seni, dan jika kita tidak mencoba untuk mempelajari seni pendidikan, kita mungkin secara tidak sengaja menghancurkan anak-anak kita melalui praktik-praktik yang kita lakukan tanpa memperhatikan bahaya dan dampaknya terhadap anak-anak – bahkan jika itu dalam jangka panjang – sehingga terakumulasi dalam pikiran dan imajinasi mereka, dan meninggalkan bekas luka di jiwa mereka, dan kemudian pada akhirnya kita terkejut bahwa anak-anak kita telah menjadi terdistorsi secara psikologis, pendidikan dan moral, dan dengan berjalannya waktu masalah-masalah ini mulai muncul, dan memerlukan intervensi cepat dalam pengobatan, jika tidak maka keadaannya akan bertambah buruk, dan akibatnya tidak dapat diukur. Mahmouda.

Pengasuhan pada zaman kita ini menjadi disiplin ilmu tersendiri. Apabila kita tidak berusaha mempelajari keterampilan-keterampilan dalam pengasuhan, bisa jadi kita akan merusak anak-anak kita tanpa disadari melalui kebiasaan-kebiasaan yang kita lakukan tanpa mengetahui bahaya dan pengaruhnya terhadap anak-anak, meskipun baru terasa dalam jangka panjang. Pola-pola asuh yang salah itu terus menumpuk dalam akal pikiran mereka dan meninggalkan bekas dalam jiwa mereka, lalu pada akhirnya kita dikejutkan dengan anak-anak kita yang cacat secara mental, pengasuhan, dan akhlak. Seiring berjalannya waktu, masalah-masalah tersebut akan mulai muncul, dan membutuhkan penanganan yang cepat dan tepat, dan jika tidak, maka masalah ini akan semakin memburuk dan akibatnya tidak diharapkan.

Kenyataannya adalah bahwa cacat pendidikan dan distorsi psikologis ini – dan mungkin ketidakseimbangan moral – berada di balik alasan dan perilaku yang dimulai di rumah dan disebabkan oleh orang tua sendiri.

Pada hakikatnya, cacat-cacat pengasuhan dan gangguan-gangguan mental – mungkin juga kerusakan-kerusakan akhlak – dilatarbelakangi oleh sebab-sebab dan perlakuan-perlakuan yang berawal dari rumah tangga dan orang tua itu sendiri.

Bagaimana Anda menghancurkan anak-anak Anda!!!

Ada praktik-praktik yang justru berujung pada kehancuran psikologis anak, penyimpangan moralnya, dan berujung pada cacat dan penyakit dalam proses pendidikan. Diantara amalan tersebut adalah:

Bagaimana kamu merusak anak-anakmu?!

Ada banyak pola asuh yang memang dapat merusak mental anak-anak, menyebabkan penyimpangan akhlak mereka, dan menimbulkan gangguan dan ketidakseimbangan dalam proses pengasuhan. Di antara pola-pola asuh ini adalah:

Berteriak berlebihan dan meninggikan suara:

Membentak anak secara terus menerus menyebabkan anak mempunyai pandangan negatif terhadap dirinya sendiri, kehilangan rasa percaya diri, dan kurang percaya diri. Anak-anak merasa orang tuanya tidak ada untuknya. Berteriak juga menciptakan tantangan antara anak dan orang tuanya, yang pada akhirnya mengarah pada pemisahan emosional anak dari orang tuanya dan jarak permanennya dari lingkungan sekitar, yang berkontribusi pada putusnya ikatan keluarga, ketergantungan pada kesepian dan isolasi, dan dapat berkembang menjadi masalah lain seperti kecemasan berlebihan, stres, dan depresi.

Pertama: Banyak berteriak dan meninggikan suara

Teriakan yang selalu dilontarkan ke anak-anak dapat menyebabkan mereka memandang rendah diri mereka, kehilangan kepercayaan diri, dan tidak menghargai diri sendiri, serta membuat mereka merasa orang tua mereka tidak berada di pihak mereka. Teriakan juga akan melahirkan permusuhan antara anak dan kedua orang tuanya. Pada akhirnya itu akan memutus koneksi perasaan antara anak dan kedua orang tua, dan menjauhkannya dari lingkup figur mereka berdua secara berkelanjutan. Ini tentu akan berperan dalam merusak hubungan kekeluargaan, kecondongan pada sikap suka menyendiri, dan bisa jadi akan berlanjut menjadi masalah-masalah lain seperti sering merasa cemas, gelisah, dan stres.

Pemukulan dan kekerasan fisik:

Sayangnya, salah satu metode membesarkan anak yang paling buruk dan paling umum adalah menghukum anak secara fisik dengan memukulinya setiap kali dia tidak patuh atau melakukan kesalahan. Akibat dari cara ini sangatlah negatif, karena bisa jadi akan menghasilkan seorang anak yang membenci semua orang di sekitarnya dan bersifat agresif serta mempunyai keinginan yang besar untuk membalas dendam… atau seorang anak yang sangat tertutup dan terasing dari orang lain, sangat rendah dalam kepercayaan diri, sangat takut terhadap upaya apa pun untuk bekerja karena takut gagal, dan dia mungkin menjadi orang yang sangat keras dan ketat, sangat kejam terhadap anak-anaknya ketika dia besar nanti, dan dalam berurusan dengan orang lain.

Kedua: Pukulan dan kekerasan fisik lainnya

Ini merupakan cara pengasuhan yang paling buruk, tetapi sayangnya menjadi cara yang juga paling banyak dipakai, yaitu menghukum anak secara fisik dengan pukulan setiap kali ia melanggar aturan atau berbuat salah. Efek dari cara ini sangat buruk, karena dapat membentuk jiwa anak yang membenci terhadap setiap orang yang di sekelilingnya, agresif, dan pendendam, atau menjadi anak yang minder, suka menyendiri, pesimis terhadap diri sendiri, dan takut mencoba karena takut gagal. Terkadang juga menjadi orang yang sangat keras dan kaku terhadap anak-anaknya kelak di masa depan dan ketika berinteraksi dengan orang lain.

Kontrol dan dominasi:

Dengan memaksa anak untuk hanya melakukan aktivitas dan tugas yang ditentukan oleh orang tuanya, dan mencegahnya melakukan aktivitas yang diinginkannya tanpa alasan. Perilaku pendidikan ini sering dikaitkan dengan hukuman psikologis atau fisik, dan mungkin dominasinya meningkat, menghalangi dia dari jenis studi yang dia inginkan dan memaksanya untuk melakukan apa yang diinginkan atau diharapkan dan gagal oleh ayahnya, sehingga dia ingin mengkompensasi kegagalannya dengan anak-anaknya.

Anak-anak yang terpapar pada metode pendidikan ini diliputi rasa takut dan malu, ketergantungan dan ketundukan pada orang lain, tidak mampu berpikir dan berkreasi, bahkan tidak mampu mengutarakan pendapatnya pada topik-topik umum dan berdiskusi dengan teman-temannya, dan akibatnya adalah menjadi manusia tanpa jati diri atau kepribadian.

Ketiga: Otoriter dan terlalu dominan

Yakni dengan memaksa anak mengikuti kegiatan-kegiatan dan tugas-tugas yang hanya ditentukan oleh orang tua saja, dan melarang tanpa alasan aktivitas-aktivitas yang disukai anak. Sering kali, pola asuh seperti ini berkaitan kuat dengan hukuman fisik dan non-fisik.

Terkadang sikap otoritatif ini sangat besar, hingga melarang suatu pelajaran yang disukai anak dan memaksa anak untuk melakukan apa yang diinginkan orang tua atau yang dulu diinginkan orang tua lalu mereka gagal, sehingga mereka ingin mengganti kegagalan itu melalui anak-anak mereka.

Anak yang memperoleh pola asuh seperti ini sering kali memiliki kecenderungan penakut, minder, mudah terpengaruh dan tunduk kepada orang lain, tidak mampu berpikir dengan bebas dan kreatif, dan bahkan tidak mampu mengungkapkan pendapat di tempat-tempat umum atau dalam diskusi dengan teman-temannya. Sehingga hasilnya adalah manusia yang tidak berkarakter dan krisis identitas.

Pertengkaran terus-menerus dan kurangnya rasa saling menghormati di antara pasangan:

Mungkin dengan saling berteriak dan menghina, dan kadang-kadang berkembang menjadi semacam pemukulan, hal ini berdampak buruk pada anak: menimbulkan masalah psikologis seperti kecemasan, ketakutan, depresi, kehilangan kepercayaan diri, dan mungkin perasaan benci terhadap salah satu orang tuanya jika dia melihat dirinya tertindas dan dia sangat mencintainya.

Dari sudut pandang kesehatan: Dia hidup dalam kecemasan terus-menerus, yang mempengaruhi otak anak dan berkontribusi pada keterlambatan perkembangan kemampuan mentalnya, dan terkadang kasus buang air kecil yang tidak disengaja sebagai akibat dari ketakutan atau obsesi yang diakibatkan oleh kehadirannya dalam suasana yang penuh muatan ini.

Hal ini juga menanamkan dalam mentalitas anak gagasan-gagasan yang salah tentang konsep pernikahan dan kehidupan berkeluarga, dan hal ini akan mempengaruhi kehidupan emosional dan sosial mereka sekarang dan di masa depan. Masalah-masalah ini juga berdampak negatif pada tingkat akademik anak-anak, menyebabkan keterlambatan pendidikan dan rendahnya prestasi. Ditemukan bahwa sebagian besar anak putus sekolah tinggal di keluarga yang tidak stabil, atau orang tuanya terpisah.

Keempat: Pertengkaran dan tidak saling menghormati antara suami dan istri

Terkadang hal ini juga disertai dengan saling lempar teriakan dan celaan, bahkan terkadang menjurus pada kekerasan fisik. Ini tentu memberi efek destruktif terhadap anak, karena dapat menyebabkan masalah-masalah psikologis seperti kecemasan, ketakutan, stres, kehilangan kepercayaan diri, dan terkadang merasa benci kepada salah satu orang tuanya jika ia merasa terzalimi dan memendam rasa cintanya.

Dari sisi kesehatan, anak itu akan hidup dalam kegalauan terus-menerus yang akan berpengaruh pada otaknya dan menyebabkan keterlambatan pertumbuhan akal. Terkadang juga diiringi dengan kasus mengompol akibat ketakutan atau kecemasan yang bersumber dari keberadaannya dalam suasana penuh ketegangan tersebut.

Kondisi ini juga menanamkan pemahaman-pemahaman keliru pada akal anak tentang konsep pernikahan dan kehidupan rumah tangga. Tentu ini akan berpengaruh pada kehidupan mereka secara emosional dan sosial di masa kini dan masa depan. Masalah-masalah ini akan berpengaruh negatif juga pada bidang akademik anak, menyebabkan kesenjangan keilmuan, dan penurunan nilai akademiknya. Dan mayoritas orang yang meninggalkan kursi pendidikan adalah mereka yang hidup di keluarga yang tidak kondusif atau terjadi perceraian di antara orang tua mereka.

Uang tunai permanen:

Melatih rasa sakit psikologis terus-menerus mencari kesalahan, berfokus pada hal-hal negatif daripada hal-hal positif, dan meremehkan dirinya serta ide-ide dan minatnya… Hal ini membuatnya kehilangan kepercayaan diri, dan ketidakmampuan mengambil tindakan apa pun karena takut dikritik, dan menghasilkan orang yang ragu-ragu, penakut, introvert yang sering jarang berinteraksi dengan orang lain.

Kelima: Kritik yang berlebihan

Termasuk juga kebiasaan memberi luka psikologis dengan mencari-cari kesalahan, fokus kepada hal-hal negatif – alih-alih yang positif, meremehkan pribadinya, pemikirannya, dan ketertarikannya. Ini semua dapat membuat anak kehilangan kepercayaan diri, tidak mampu melakukan tugas apa pun karena takut mendapat kritik. Pola asuh ini akan menghasilkan manusia yang plin-plan, minder, dan sering kali rendah hubungan sosialnya dengan orang lain.

Perbandingan terus-menerus antara dia dan anak-anak lain:

Ada yang menganggap hal ini sebagai motivasi untuk berusaha dan berusaha berprestasi, namun seringkali membuat frustasi dan berujung pada goyahnya rasa percaya diri anak, karena tidak memperhitungkan kemampuan, bakat, dan karakteristik individu antara anak satu dengan yang lain. Hal ini juga dapat menimbulkan rasa iri dan kebencian terhadap anak-anak yang membandingkannya dengan mereka, dan mungkin permusuhan dan agresi terhadap mereka.

Keenam: Selalu membandingkan anak dengan anak lain

Sebagian orang menganggap ini sebagai bagian dari motivasi agar anak mau mengerahkan usaha dan berjuang untuk lebih berprestasi. Namun, lebih seringnya justru menjadi penurun semangat dan menggoyahkan kepercayaan diri anak tersebut, karena pola asuh seperti ini tidak mengindahkan karakteristik, keterampilan, dan ciri khas antara satu anak dengan anak lain. Bisa jadi, pola asuh ini juga menimbulkan kedengkian dan kebencian terhadap anak-anak yang menjadi pembanding tersebut, atau bahkan permusuhan dan perselisihan terhadap mereka.

Perawatan yang berlebihan dan memanjakan yang berlebihan:

Dan penuhi segala permintaan dan keinginan, serta laksanakan segala tugas dan kewajiban atas namanya… dan tidak mempertanggungjawabkan kelalaian dan kesalahannya.

Akibat dari didikan seperti ini adalah menjadi pribadi yang tidak bertanggung jawab, lemah budi pekertinya, egois dan terlalu bergantung, tidak mampu memasuki situasi dan bertanggung jawab.

Ketujuh: Kemanjaan dan perhatian yang berlebihan

Juga memenuhi segala permintaan dan keinginan anak, melakukan semua tugas dan kewajiban yang seharusnya dilakukan anak, dan tidak memberi hukuman terhadap kelalaian dan kesalahan anak.

Hasil dari pengasuhan seperti ini adalah terbentuk manusia yang tidak bertanggung jawab, memiliki karakter yang lemah, egois, dan sangat bergantung kepada orang lain, serta tidak mampu menghadapi momen-momen genting dan mengemban tanggung jawab.

Pendidikan memerlukan kesadaran, perhatian, dan pengamatan terus-menerus terhadap kesalahan pendidikan dan dampak yang menyertainya terhadap anak, serta mengatasinya dengan segera, dan memperbaiki jalur pendidikan. Biarkan anak-anak kita muncul sesuai keinginan kita, apa yang kita cintai, dan apa yang seharusnya, bermanfaat bagi diri mereka sendiri, agama mereka, dan negara mereka, mencari pertolongan pertama dan terakhir dari Tuhan Yang Maha Esa dan berdoa untuk kesuksesan.

menutupi

Pengasuhan membutuhkan kesadaran dan perhatian, pengawasan berkelanjutan terhadap kesalahan-kesalahan pola asuh dan efek-efek negatif yang menyertainya pada anak, menangani itu semua dengan sigap, dan meluruskan pola asuh ke jalan yang benar, agar anak-anak kita tumbuh sesuai dengan apa yang kita inginkan, harapkan, dan mereka menjadi sebagaimana yang seharusnya, bermanfaat bagi diri, agama, dan negara mereka. Dan hanya kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala kita memohon pertolongan dan taufik-Nya.

Sumber:

Sumber artikel GDF

🔍 Tulisan In Shaa Allah, Ayat Kursi Gambar, Benarkah Saat Haid Tidak Boleh Keramas, Catur Haram, Cewek Tidur Ngangkang

Dikunjungi 41 kali, 5 kunjungan hari ini


Tampilan Postingan: 20

QRIS Donasi Yufid


News
Berita
News Flash
Blog
Technology
Sports
Sport
Football
Tips
Finance
Berita Terkini
Berita Terbaru
Berita Kekinian
News
Berita Terkini
Olahraga
Pasang Internet Myrepublic
Jasa Import China
Jasa Import Door to Door