Orang yang Dikehendaki Tuhan Mendapatkan Kebaikan – KonsultasiSyariah.com

Oleh:

Fahd bin Abdul Aziz Abdullah asy-Syuwairikh

Iradah (Kehendak) merupakan salah satu sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala yang selalu ada pada-Nya. Para salaf telah menyepakati bahwa iradah merupakan sifat-Nya yang tetap dan ia merupakan kehendak hakiki yang sesuai dengan keagungan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ia terbagi menjadi dua jenis:

Pertama: Iradah kauniyyah (kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala yang pasti terjadi di alam semesta) atau disebut juga masyi’ah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

Siapapun yang Allah ingin beri petunjuk, Dia membuka hatinya kepada Islam.

“Barangsiapa yang ingin diberi petunjuk oleh Allah, maka Dia akan membuka dadanya untuk (memeluk) Islam.” (QS. Al-An’am : 125).

Kehendak jenis ini pasti terjadi, baik itu dalam hal yang disukai Allah Subhanahu wa Ta’ala maupun tidak.

Kedua: Iradah syar’iyyah (kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala yang sesuai dengan syariat-Nya). Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

Dan Tuhan ingin menerima pertobatan Anda

“Dan Allah hendak menerima taubat kalian.” (QS. An-Nisa: 27). Kehendak jenis ini tidak harus terjadi, dan hanya berupa hal yang disukai Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Banyak manfaat dalam kehidupan seorang hamba ketika ia mengetahui bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala mempunyai kehendak yang benar yang sesuai dengan keagungan-Nya. Syekh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin Rahimahullah berkata: Dua manfaat yang bisa kita peroleh dari pengetahuan kita tentang kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam hidup kita:

Manfaat yang pertama: Kita bersandar pada harapan, ketakutan, dan segala keadaan serta amalan kita hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, karena segala sesuatu terjadi atas kehendak-Nya. Ini akan menciptakan sikap percaya kita.

Manfaat kedua: Kita melakukan apa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala kehendaki sesuai syariat. Ketika kita mengetahui bahwa suatu hal adalah kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam syariat-Nya dan Dia menyukainya, maka hal itu akan memperkuat keteguhan kita dalam melaksanakannya.

Banyak nash yang menyatakan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala menghendaki kebaikan bagi sebagian kelompok manusia dan hendaknya seorang hamba berikhtiar dan berdoa kepada Rabbnya agar termasuk dalam kelompok tersebut, serta tetap bersabar dan ridha ketika terjadi hal-hal yang tidak disukainya selama Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mentakdirkannya dan menghendaki kebaikan untuknya. Dan diantara golongan yang dikehendaki kebaikannya oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah :

1. Orang-orang yang dermawan dalam menjalankan ajaran Islam dengan suka cita dan bahagia:

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

Barangsiapa yang Allah ingin beri petunjuk, maka Dia bukakan dadanya kepada Islam, dan barangsiapa yang Dia ingin sesatkan, Dia jadikan dadanya sempit dan kikuk, seolah-olah dia sedang naik ke langit.

“Barangsiapa yang ingin diberi petunjuk oleh Allah, maka Dia akan membuka dadanya untuk (memeluk) Islam. Dan barang siapa yang Dia ingin disesatkan, Dia akan membuat dadanya sempit dan sesak, seolah-olah dia sedang naik ke langit.” (QS. Al-An’am : 125).

Syekh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin berkata: “Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: ‘Barangsiapa yang Allah kehendaki mendapat petunjuk, niscaya Dia akan membuka dadanya untuk (memeluk) Islam’ Artinya, yang dimaksud dengan wasiat di sini adalah wasiat kauniyyah, dan yang dimaksud dengan hidayah adalah hidayah taufiq (bimbingan yang menjadikan seseorang menerima jalan yang benar), sehingga anda mendapati dirinya terbuka terhadap syariat Islam dan syariat, melaksanakannya dengan mudah, gembira, dan ringan.

Apabila engkau mendapati hal ini dalam dirimu, maka ketahuilah bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala sedang menghendaki kebaikan bagimu, menghendaki hidayah untukmu. Namun, barang siapa yang sempit hatinya –nau’dzubillah– maka ini adalah tanda Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak menghendaki hidayah baginya, karena seandainya tidak demikian niscaya akan lapang dadanya.”

2. Orang yang diberi taufik untuk bertaubat dari dosa-dosanya sebelum meninggal, serta semangat mengerjakan amal shaleh ketaatan lalu mati dalam keadaan itu

Diriwayatkan dari Abu Umamah Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah SAW bersabda:

Jika Allah menghendaki kebaikan bagi seorang hamba, maka Dia mensucikan dia sebelum kematiannya. Mereka bertanya: Apakah bersuci seorang hamba? Beliau menjawab: Suatu amal shaleh yang menggugahnya untuk mengerjakannya hingga ia mendapatkannya.

“Bila Allah menghendaki kebaikan bagi seorang hamba, maka Dia akan menyucikannya sebelum dia meninggal.” Para sahabat bertanya: “Apa yang dimaksud dengan bersuci seorang hamba?” Beliau menjawab: “Sungguh suatu amal shaleh yang diilhami Allah kepadanya sampai Dia mati atas amal itu.” (HR. Ath-Thabrani in Al-Kabir).

Diriwayatkan dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah SAW bersabda:

Jika Allah menghendaki kebaikan bagi seorang hamba, Dia memakainya. Dikatakan: Bagaimana Dia menggunakannya? Dia berkata: Dia akan membimbingnya untuk melakukan perbuatan baik sebelum kematian.

“Ketika Allah menghendaki kebaikan bagi seorang hamba, Dia akan memanfaatkannya.” Dia kemudian ditanya: “Bagaimana Tuhan menggunakannya?” Dan dia menjawab: “Dia memberinya taufik untuk beramal shaleh sebelum mati.” (HR. At-Tirmidzi).

Para ulama menjelaskan: “Artinya dengan memberinya taufik sebelum meninggal dunia agar bertaubat dan rajin beramal shaleh serta menjauhi hal-hal yang melanggar agama, kemudian meninggal di atas itu, dia diberi pahala yang besar atas amal kecilnya.”

3. Keluarga yang lemah lembut dalam ucapan dan tindakan

Diriwayatkan dari Ummul Mu’minin Aisyah Radhiyallahu ‘anha bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda:

Jika Allah menghendaki kebaikan bagi suatu keluarga, maka Dia melimpahkan kebaikan kepada mereka.

“Bila Allah menghendaki kebaikan bagi sebuah keluarga, maka Dia akan menambahkan kelembutan pada mereka.” (HR.Ahmad).

Imam Al-Munawi Rahimahullah berkata: “Allah Subhanahu wa Ta’ala menanamkan dalam diri mereka sikap lemah lembut, yaitu bersikap lemah lembut terhadap sesamanya.

4. Pemimpin yang mempunyai sahabat yang shaleh, bila pemimpinnya lalai, ia mengingatkan, bila ia ingat, ia menolongnya

Diriwayatkan dari Ummul Mu’minin Aisyah Radhiyallahu ‘anha bahwa Nabi Subhanahu wa Ta’ala bersabda:

Jika Tuhan menginginkan kebaikan bagi sang pangeran, Dia akan mengangkatnya menjadi menteri yang jujur. Jika dia lupa, dia mengingatkannya, dan jika dia ingat, dia membantunya, dan jika Allah menghendaki selain itu, Dia menjadikan baginya menteri yang jahat. Jika dia lupa, dia tidak akan mengingatkannya, dan jika dia ingat, dia tidak akan membantunya.

“Bila Allah menghendaki kebaikan bagi seorang pemimpin, maka Dia akan memberinya menteri yang jujur, jika pemimpin itu lupa, maka penasihatnya akan mengingatkannya, dan jika dia ingat, maka dia akan membantunya. (HR.Abu Dawud).

Para ulama menjelaskan: Artinya, Allah Subhanahu wa Ta’ala memberinya seorang menteri yang bertakwa, jujur, dan selalu menasehatinya dan umatnya.

5. Orang yang memahami agama Allah Subhanahu wa Ta’ala

Diriwayatkan dari Muawiyah bin Abi Sufyan Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah SAW bersabda:

Barang siapa yang dikehendaki Allah kebaikannya, maka Dia akan menjadikan dia memahami agama.

“Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikannya, maka Dia akan memberinya pemahaman dalam agama.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani rRahimahullah berkata: “Yang dipahami dari hadis ini adalah barang siapa yang tidak diberi pemahaman dalam agama – yakni dengan mempelajari kaidah-kaidah agama Islam dan ilmu-ilmu turunannya yang berkaitan dengannya – maka ia telah terhalang dari kebaikan.”

3. Orang yang hukumannya disegerakan di dunia

Diriwayatkan dari Anas Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Subhanahu wa Ta’ala bersabda:

Jika Allah menghendaki kebaikan terhadap hamba-Nya, maka Dia akan mempercepat siksanya di dunia, dan jika Dia menghendaki keburukan terhadap hamba-Nya, maka Dia akan menahan dosanya hingga dia membalasnya. Pada hari kiamat

“Apabila Allah menghendaki kebaikan bagi seorang hamba, maka Dia akan mempercepat siksanya di dunia. Dan apabila Dia menghendaki keburukan bagi seorang hamba, Dia akan menahan (hukuman) atas dosa-dosanya hingga Dia membalasnya di Hari Kebangkitan.” (HR. At-Tirmidzi).

Para ulama mengatakan: “Apabila Allah Subhanahu wa Ta’ala menghendaki kebaikan terhadap hamba-Nya, maka Dia akan mempercepat siksanya dengan berbagai hal yang tidak Dia sukai, dan menimpakannya berbagai musibah dan cobaan di dunia, agar dia meninggalkan dunia tanpa membawa dosa lagi.

Diriwayatkan juga dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda:

Siapapun yang Allah kehendaki kebaikannya, maka Dia akan menerima kebaikan darinya.

“Barangsiapa yang dikehendaki Allah kebaikan baginya, maka Dia akan mendatangkan malapetaka kepadanya.” (HR. Al-Bukhari).

Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata: “Maksudnya Allah Subhanahu wa Ta’ala memberinya musibah agar ia diberi pahala atas musibah itu. Dalam hadis-hadis tersebut terdapat kabar baik yang besar bagi setiap mukmin, karena manusia pada umumnya tidak kebal terhadap rasa sakit karena penyakit, kegelisahan, dan sebagainya, sedangkan penyakit, serta rasa sakit dan pedih, baik pada jiwa maupun raga dapat menghapus dosa-dosa orang yang mengalaminya.”

Ya Allah, jadikan kami termasuk orang-orang yang Engkau kehendaki kebaikannya, ya Yang Maha Penyayang.

Sumber:

Sumber artikel PDF

🔍 Doa Untuk Meruqyah Diri Sendiri, Hukum Oral Suami Istri, Tawasul Kepada Nabi Muhammad, Sholat Qadha, Suami Tidak Menafkahi Istri Yang Bekerja

Dikunjungi 21 kali, 16 kunjungan hari ini


Tampilan Postingan: 2

QRIS Donasi Yufid

PakarPBN

A Private Blog Network (PBN) is a collection of websites that are controlled by a single individual or organization and used primarily to build backlinks to a “money site” in order to influence its ranking in search engines such as Google. The core idea behind a PBN is based on the importance of backlinks in Google’s ranking algorithm. Since Google views backlinks as signals of authority and trust, some website owners attempt to artificially create these signals through a controlled network of sites.

In a typical PBN setup, the owner acquires expired or aged domains that already have existing authority, backlinks, and history. These domains are rebuilt with new content and hosted separately, often using different IP addresses, hosting providers, themes, and ownership details to make them appear unrelated. Within the content published on these sites, links are strategically placed that point to the main website the owner wants to rank higher. By doing this, the owner attempts to pass link equity (also known as “link juice”) from the PBN sites to the target website.

The purpose of a PBN is to give the impression that the target website is naturally earning links from multiple independent sources. If done effectively, this can temporarily improve keyword rankings, increase organic visibility, and drive more traffic from search results.

Jasa Backlink

Download Anime Batch