Santri Tanpa Pondok | Tebuireng Online


Orang-orang yang mengaji (ai/ra)

Kicau nyaring beberapa ekor burung yang terbang rendah dan kokok ayam jantan dari rumah warga serta deru mesin kendaraan yang lalu-lalang berbaur menjadi satu meramaikan pagi. Di bawah pohon rindang di tepi jalan, seorang anak laki-laki berambut cepak duduk beralas sepasang sandal jepit, sambil membaca sebuah buku kecil yang baru saja dia temukan.

Buku itu bersampul cokelat, tebal, dan terdapat tulisan berbahasa Arab keemasan yang tampak mencolok. Isinya pun dari halaman awal hingga akhir juga berbahasa Arab. Napas anak itu berdesau lirih lantaran dia merasa bingung, tidak paham sama sekali apa yang sedang dibacanya.

“Nuh, ayo sekolah lagi! Kamu lagi apa di situ?” Mendengar seruan yang menyebut namanya, Nuh segera menutup buku.

Nuh melihat dua orang temannya, Arsyad dan Darwish yang berseragam sekolah mengayuh sepeda mereka beriringan. Dia tersenyum kepada mereka, sambil berkata, “Aku titip salam, ya, buat teman-teman yang lain!”

Arsyad menjawab singkat, “Oke, Nuh.”

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Kedua bola mata Nuh bergerak mengikuti laju sepeda mereka yang perlahan menjauh dan lenyap dari batas pandangan. Dia mengangkat kepalanya yang sedikit dihangati sinar matahari, dengan pikiran menerawang ke sana-sini. Pikiran itu kemudian mengunci sebuah kenangan manis tak terlupakan, kenangan belajar dan bersenda gurau di sekolah bersama anak-anak lain, termasuk Arsyad dan Darwish.

Dengan raut muka lemas, dia berkata pelan, “Andai Bapak masih hidup, mungkin sekarang aku lagi duduk di bangku sekolah, bukan di tempat ini.” Sejak sang bapak meninggal sekitar dua bulan lalu, dia pun terpaksa putus sekolah karena sudah tidak memiliki biaya. Di rumah, hanya ibunya yang sakit-sakitan yang menjadi satu-satunya teman setia bercerita. Sebab, dia anak tunggal.

Dia menitikkan air mata, teringat perkataan ibunya. “Maafkan Ibu yang tidak berdaya untuk menyekolahkanmu, Nak. Kita tidak punya apa-apa, selain rumah ini. Sementara, Ibu sedang sakit. Seumpama sehat, pasti akan bekerja agar kamu tetap bisa melanjutkan sekolah. Kamu tidak boleh putus asa, harus tetap semangat dalam mewujudkan impianmu. Carilah guru ngaji agar kelak mendapat berkah.”

Matahari mulai meninggi. Awan-awan putih tipis berarak perlahan pada langit biru terang yang kerap kali dilintasi sekumpulan burung layang-layang. Hiruk pikuk suara pedagang dan pembeli yang berjajar di bahu jalan, membarengi aroma sedap aneka makanan yang beterbangan menggoda perut yang keroncongan.  Melihat ada begitu banyak makanan, Nuh yang sedang berjalan pulang, menelan ludah. Perutnya berkeriut. Dari semalam dia belum makan.

“Ayah, aku mau bakso jumbo sama es jeruk!” seru seorang anak perempuan dari dalam warung bakso. Nuh merasa cemburu dengan anak itu. Sesaat dia membayangkan, dialah yang duduk di situ bersama sang bapak.

Dia berlalu begitu saja tanpa membeli apa pun karena tidak ada uang dalam kantung celana pendeknya yang kusam dan bertambal. Saat melewati sebuah pesantren di mana dia menemukan buku kecil berbahasa Arab itu, dia berpikir untuk mengembalikannya. Kebetulan ada tiga anak santri seusianya, berpeci dan bersarung yang keluar gerbang.

“Maaf. Tunggu sebentar,” kata Nuh.

Saat mereka mendekat, Nuh segera menjelaskan, “Aku mau mengembalikan ini. Tadi pagi aku menemukannya tergeletak di sini.”

“Masya Allah. Itu kitab hafalanku!” kata salah seorang santri.

“Oh, jadi punya sampean? Kebetulan banget kalau begitu,” balas Nuh.

Nggeh. Matur nuwun sudah dikembalikan.” Santri itu berterima kasih, selagi Nuh menyerahkan kitab hafalannya kepadanya.

“Ini kitab hafalan apa?” tanya Nuh dengan polos.

Alfiyah Ibnu Malik. Kami di pondok diharuskan menghafalkannya.”

“Menghafalkan dari awal sampai akhir?” Nuh tertegun, merasa takjub.

“Iya,”

“Wow, keren!” puji Nuh.

“Kok sampean enggak sekolah?” tanya santri lain.

Nuh menjawab jujur, “Aku udah putus sekolah. Enggak punya biaya mau lanjut.”

“Kenapa enggak punya biaya? Emang orang tua sampean ke mana?”

“Bapakku udah dipanggil Allah. Aku sekarang tinggal bersama Ibuku aja yang lagi sakit. Aku anak tunggal.”

Santri itu meminta maaf, “Astagfirullah. Maaf, ya. Aku enggak bermaksud bikin sampean sedih.”

Enggak apa-apa kok,” kata Nuh.

“Siapa nama sampean?” Santri pemilik kitab Alfiyah Ibnu Malik yang ditemukan Nuh bertanya.

“Nuh. Kalau sampean?”

“Aku Nabil. Ini Ibad dan Nizar.”

“Apa kalian udah lama mondok di sini?” tanya Nuh.

Nizar yang berdiri di sebelah kanan Nabil, menjawab, “Kalau aku baru dua bulan mondok di sini. Kalau mereka berdua udah lama.”

“Kita cari tempat yang lebih enak, yuk, buat ngobrol! Sungkan, ngobrol di sini. Ayo ikut kami cari sarapan, Nuh!” ajak Nabil sambil tersenyum.

Tidak lama kemudian, mereka berempat sudah duduk berjajar di dalam sebuah warung makanan. Di antara ketiganya, jelas penampilan Nuh berbeda sendiri, sehingga dia merasa kurang percaya diri. Apalagi kaus biru bergambar Doraemon yang dia gunakan sudah kumal dan kekecilan, serta celananya sepanjang lutut. Hal ini berbeda jauh dari penampilan ketiga anak santri itu yang serbarapi dan wangi.

“Bu, nasi pecel empat nggeh.” Nabil memesan. Sementara perhatian Nuh terpaku pada hidangan, seperti ayam, ikan, dan tempe goreng dalam etalase.

Dari belakang etalase, si penjual yang merupakan perempuan paruh baya berjilbab hitam mengiakan,  “Nggeh. Tunggu sebentar.”

Sampean tinggal di mana, Nuh?” Pertanyaan Ibad membuyarkan perhatian Nuh pada hidangan tersebut.

“Di desa Sumbermulyo, sekitar sini. Monggo, kapan-kapan main ke rumahku.” Percakapan dengan Ibad membuat Nuh kembali percaya diri, karena dia merasa tidak didiamkan dan tidak dibedakan.

Ibad menanggapi, “Oh, aku tahu desa Sumbermulyo. Aku pernah ke sana buat ngabuburit di bulan puasa tahun lalu. Insya Allah, kalau ada waktu luang aku, Nabil, sama Nizar main ke rumah sampean. Jauh enggak rumah sampean dari lapangan bola?”

“Nah, di sebelah lapangan bola kan, ada gang. Itu lurus aja sampai ada persawahan dan kali. Di sanalah aku tinggal.” Nuh menjelaskan. Bunyi kerocok perutnya kini terdengar oleh ketiga teman barunya.

“Pakai lauk apa?” tanya si penjual yang sudah selesai menyiapkan pesanan.

Nizar memulai, “Kulo, tempe dua sama telur dadar.”

Kulo, paha ayam goreng sama tempe satu,” kata Ibad.

Sampean, mau lauk apa, Nuh?” tanya Nabil, sambil menoleh ke arah Nuh yang tidak berhenti menelan ludah–membayangkan makanan lezat yang tampak dalam etalase.

“Ayam goreng tambah bakwan jagung dua,” jelas Nuh.

Nabil sendiri memesan lauk telur dadar dan ikan lele goreng. Selagi si penjual mengambilkan lauk, dia berkata, “Bu, tolong bungkus dua nasi pecel, nggeh.”

Nggeh.”

 Mereka berdoa, kemudian menyantap sarapan nasi pecel yang menggugah selera. Ibad berdiri dan beranjak untuk mengambil kerupuk bundar putih dari dalam kaleng yang terpasang di dinding. Dia mengambil empat kerupuk; dua untuk dirinya dan dua lagi diberikan pada Nuh.

Matur nuwun,” kata Nuh.

“Mau minum apa?” tanya si penjual.

Nizar yang melirik tumpukan air mineral dalam kemasan gelas plastik kecil, menjawab, “Air mineral aja, Bu.”

“Oh, monggo diambil sendiri.”

Nuh yang amat kelaparan, selesai makan lebih dahulu. Nizar dengan sigap mengambil empat gelas air mineral tersebut.

Nuh mengucap hamdalah setelah minum. Nabil yang baru saja selesai, berkata, “Aku titip salam buat Ibu sampean, ya. Semoga beliau segera sembuh.”

“Iya, nanti aku sampaikan. Aamiin. Matur nuwun,” balas Nuh.

“Kalau sampean mau, ayo ikut ngaji bareng kami setiap hari selepas magrib di pondok kami. Biar kita makin akrab.” Nuh yang mendengar kata ‘ngaji’ langsung teringat akan pesan ibunya. Dia merasa senang bisa bertemu dan berteman dengan ketiga anak santri ini.

Baginya, ajakan Nabil terdengar sangat berharga. Dia menanggapi dengan penuh semangat,  “Iya, aku mau! Ngaji apa?”

“Bagus kalau sampean mau. Kita jadi bisa belajar bareng. Ngaji kitab pegon. Nanti malam selepas magrib, aku tunggu di depan gerbang pondok, ya. Aku bakal kasih sampean kitabnya.” Nuh mendapati ketulusan pada pancaran mata Nabil yang berbinar-binar dengan senyum yang berkesan.

“Aku mau, tetapi aku enggak punya sarung dan peci seperti kalian di rumah.”

Ibad menimbrung, “Tenang aja, Nuh. Enggak usah khawatir. Di pondok, aku punya sarung dan peci lain yang bisa sampean gunakan. Masih bagus banget. Nanti malam aku kasih ke sampean.”

Kali ini giliran Nizar, “Maaf, Nuh. Kulihat sandal jepit sampean udah agak kekecilan dan talinya mau putus. Aku punya sandal yang pasti cocok buat sampean.”

Nuh merasa benar-benar terharu atas perkataan yang sangat menggembirakan dari ketiga anak santri itu.

“Berapa semua, Bu?” Nabil berdiri sambil merogoh uang dari dalam kantung baju takwa-nya. Nuh, merasa agak cemas kalau-kalau akan diajak patungan untuk membayar, sedangkan dia tidak memiliki uang sama sekali.

“Sama dua bungkus nasi pecel, ya? Semua berarti 56,000,” jawab si penjual setelah selesai menghitung.

Kecemasan Nuh lenyap begitu saja, saat Nabil berkata, “Ini, Bu.”

Dia menyerahkan uang 60,000 dan menerima kembalian serta dua bungkus nasi pecel dalam kantung plastik yang diikat. Setelah  keluar warung, dia berkata, “Bawa ini pulang, Nuh. Kami sekarang harus kembali ke pondok karena ada kegiatan. Sampai jumpa nanti malam.”

Dia menyerahkan dua bungkus nasi pecel itu kepada Nuh. Saat menerima, Nuh menjawab, “Matur nuwun, Nabil. Sampai jumpa.”

“Hati-hati, Nuh,” kata Ibad.

Mereka kemudian berpisah ke arah berlawanan.

***

Hijau padi sawah membentang di antara sebuah sungai jernih dan jalan lurus beraspal. Jika memandang lebih jauh ke seberang sawah, akan terlihat bukit kapur yang menjulang gagah. Berumpun-rumpun bambu yang  meneduhi aliran sungai bekertak-kertak, beberapa ekor ikan kecil menyusup serentak ke bebatuan retak. Seekor burung bangau berbulu putih dengan jeli memangsa katak yang terlalu lamban melompat di bawah batang-batang padi berdaun lebat. Makhluk hidup selalu butuh makan.

Di dalam rumah yang terdapat banyak lubang lebar pada seluruh dinding kayu dan atap gentingnya, seorang perempuan duduk lunglai di sebuah kursi berkaki empat yang menghadap ke arah pintu reyot yang terbuka. Tubuh kurus perempuan itu tidak hanya lunglai, tetapi juga bergetar sesekali. Rambutnya yang diikat ke belakang tampak kusam dan bercabang. Dalam kesendirian tanpa teman bicara, bibirnya yang pucat terus melafalkan zikir dan salawat. Dia sedang menanti sang anak laki-laki, yang kemudian muncul di depan pintu sambil mengucapkan salam.

Assalamualaikum. Bu, aku membawakan sampean sarapan.”

Waalaikumsalam. Dari mana saja kamu, Nuh? Apa kamu sendiri yang membeli sarapan ini?” Nuh kemudian menceritakan pertemuannya dengan tiga anak santri dari awal hingga mereka berpisah.

“Masya Allah. Semoga Allah membalas kebaikan mereka,” kata Ibu Nuh, terharu.

“Bu, mulai malam ini aku mau ikut ngaji sama mereka di pondok. Mereka yang mengajakku. Boleh nggak?”  tanya Nuh.

Enggeh. Tentu saja boleh, Nuh. Ibu sangat mendukungmu. Alhamdulillah doa ibu terkabul. Sejak kamu putus sekolah, ibu mengkhawatirkan masa depanmu. Sedangkan pendidikan itu penting untuk mempermudah jalan menuju kebahagiaan dunia akhirat. Meskipun kamu putus sekolah, mengajilah. Agar kelak bisa mengamalkan dan menyebarkan ilmu agama yang bermanfaat. Ilmu agama itu lebih utama, anakku.” Nuh merenungkan dan membenarkan nasihat ibunya.

Enggeh, Bu. Sekarang aku mau menyuapi ibu sarapan ini.”

Cahaya lampu-lampu kendaraan memenuhi jalan raya seusai matahari terbenam dan langit berubah hitam keunguan. Di depan gerbang yang disinari penerangan bertenaga surya, Nabil, Ibad, Nizar, dan Nuh, berjumpa lagi sesuai yang mereka rencanakan pagi tadi.

“Ayo masuk dan pakailah ini di dalam kamar mandi,” kata Ibad kepada Nuh, sambil memberikan peci dan sarung. Sedangkan Nizar memberikan sandal yang langsung dipakai Nuh seketika.

Nuh gembira sekali. “Terima kasih banyak, teman-teman.”

Kemudian mereka berempat masuk ke area pondok. Ibad menunjukkan kepada Nuh letak kamar mandi. Dalam beberapa saat, Nuh keluar dari kamar mandi dengan penampilan yang sudah berubah total. Ibad yang menunggu di luar memuji, “Sampean sekarang udah kayak santri benaran, Nuh.” Nuh hanya tersenyum sambil memandangi penampilan barunya.

“Kitab ini buat sampean, Nuh. Sebentar lagi, pengajian bakal dimulai. Kita berteman. Jadi, sampean enggak usah merasa grogi atau sungkan kalau butuh apa-apa sama kami, ya!” tegas Nabil. Nuh berterima kasih.

Mereka pun pergi menuju aula yang sudah dipadati banyak santri yang duduk berbaris sambil memegang kitab masing-masing. Tidak ada tatapan sinis yang tertuju pada Nuh saat dia masuk ke aula dan mencari tempat duduk bersama Nabil, Ibad, dan Nizar.

Nizar berbisik pada Nuh, “Mulai sekarang, sampean adalah santri seperti kami, Nuh.”

Nabil menambahkan, “Iya, Nuh. Mbah Yai kami pernah dawuh begini, ‘Santri itu bukan cuma anak-anak seperti kalian yang mondok. Siapa aja bisa disebut santri, asal dia beriman dan mendalami agama dengan sungguh-sungguh.’ Kami harap sampean mau terus ikut ngaji bareng kami.”

“Semangat, Nuh!” Ibad menyemangati.

Suasana menjadi hening saat guru ngaji yang juga sekaligus merupakan pengasuh pondok datang, kemudian duduk di belakang meja yang penuh kitab di depan semua santri. Wajah teduh beliau membuat Nuh terkesima. Penampilannya sederhana, mirip penampilan para santri: berpeci hitam dan bersarung. Lewat mikrofon di atas meja, suaranya yang berat dan berwibawa terdengar jelas. Pengajian pun dimulai.



Penulis: Muhammad Anwar
Editor: Rara Zarary


News
Berita Teknologi
Berita Olahraga
Sports news
sports
Motivation
football prediction
technology
Berita Technologi
Berita Terkini
Tempat Wisata
News Flash
Football
Gaming
Game News
Gamers
Jasa Artikel
Jasa Backlink
Agen234
Agen234
Agen234
Resep
Download Film

Gaming center adalah sebuah tempat atau fasilitas yang menyediakan berbagai perangkat dan layanan untuk bermain video game, baik di PC, konsol, maupun mesin arcade. Gaming center ini bisa dikunjungi oleh siapa saja yang ingin bermain game secara individu atau bersama teman-teman. Beberapa gaming center juga sering digunakan sebagai lokasi turnamen game atau esports.