Tebuireng.online— Pondok Pesantren Sains Tebuireng menggelar pelatihan Al Miftah Lil Ulum, sebuah metode pembelajaran cepat membaca kitab kuning yang dikembangkan oleh Pondok Pesantren Sidogiri. Kegiatan ini berlangsung Rabu (2/9/2026) pukul 08.00 hingga 17.00 WIB di Aula Balai Diklat Pesantren Sains Tebuireng.
Pelatihan tersebut diikuti oleh 50 peserta yang terdiri dari pengajar diniyah dan seluruh pembina baru Pondok Pesantren Sains Tebuireng, baik putra maupun putri. Kegiatan diawali dengan pembukaan, sambutan, sesi pelatihan, hingga doa penutup yang dipimpin oleh Ustadz H. Arif Khuzaini.
Dalam sambutannya, Ustadz Ahmad Junaidi menjelaskan bahwa Al Miftah Lil Ulum mulai dikembangkan sejak tahun 2012 sebagai upaya mempermudah masyarakat, khususnya santri, dalam mempelajari kitab turats. Ia menegaskan bahwa metode ini bukan bertujuan menggantikan kitab-kitab klasik seperti Jurumiyah, Imrithi, dan Alfiyah, melainkan menjadi sarana untuk membantu para pembelajar agar lebih mudah memahami kitab tersebut.
“Al Miftah Lil Ulum merupakan bentuk khidmah kepada kitab turats. Metode ini hadir sebagai jembatan agar belajar kitab menjadi lebih mudah dan menyenangkan,” ungkapnya.

Menurutnya, kitab-kitab dasar seperti Jurumiyah memiliki peran besar dalam melahirkan ulama-ulama besar di berbagai negara. Karena itu, diperlukan inovasi pembelajaran agar generasi muda tetap tertarik mempelajari warisan keilmuan Islam.

Selain metode membaca kitab, Pondok Pesantren Sidogiri juga terus mengembangkan berbagai program pendidikan, seperti pembelajaran ilmu balaghah yang terdiri dari tiga bidang, yaitu ma’ani, bayan, dan badi. Selain itu, terdapat program tahfidz dengan konsep hafal, faham, dan mampu meng-i’rab yang masih dalam tahap uji coba di beberapa wilayah.
Ustadz Ahmad Junaidi menyampaikan bahwa penerapan metode Al Miftah telah menunjukkan hasil positif. Salah satu contohnya adalah peserta didik tingkat sekolah dasar yang mampu membaca kitab dalam waktu sekitar sepuluh bulan melalui metode tersebut. Keberhasilan ini tidak hanya diterapkan di pesantren, tetapi juga mulai dikembangkan di masyarakat umum.
Sementara itu, Pengurus Wilayah Al Miftah Jombang menyampaikan bahwa pelatihan ini sebenarnya telah direncanakan sejak Juli hingga Agustus, namun baru terlaksana pada September karena beberapa kendala teknis. Meskipun demikian, kegiatan ini tetap memiliki nilai penting sebagai langkah awal penerapan metode Al Miftah dalam pembelajaran diniyah di Pesantren Sains Tebuireng.
Dalam kesempatan tersebut juga disampaikan bahwa seorang yang berilmu tidak akan pernah berhenti belajar. Peningkatan kompetensi guru menjadi bagian penting dalam menjaga kualitas pendidikan pesantren.
H. Arif Khuzaini mengungkapkan bahwa metode Al Miftah Lil Ulum pernah diperkenalkan di Pesantren Sains Tebuireng pada tahun 2016, namun sempat berhenti dan kembali dikembangkan pada tahun 2025. Ia juga menjelaskan bahwa sebelum mempelajari kitab-kitab besar, santri perlu memiliki dasar ilmu nahwu dan sharaf yang kuat.
Menurutnya, dahulu santri membutuhkan waktu tiga hingga enam tahun untuk mulai memahami kitab. Namun melalui metode Al Miftah, proses tersebut dapat dipercepat sehingga santri lebih mudah membaca dan memahami kitab dalam waktu sekitar satu tahun.
Ia menilai bahwa salah satu penyebab santri kurang tertarik belajar kitab adalah karena merasa kesulitan memahami teks Arab tanpa harakat. Oleh karena itu, metode Al Miftah diharapkan mampu membuat pembelajaran kitab menjadi lebih mudah, menarik, dan menyenangkan.
PakarPBN
A Private Blog Network (PBN) is a collection of websites that are controlled by a single individual or organization and used primarily to build backlinks to a “money site” in order to influence its ranking in search engines such as Google. The core idea behind a PBN is based on the importance of backlinks in Google’s ranking algorithm. Since Google views backlinks as signals of authority and trust, some website owners attempt to artificially create these signals through a controlled network of sites.
In a typical PBN setup, the owner acquires expired or aged domains that already have existing authority, backlinks, and history. These domains are rebuilt with new content and hosted separately, often using different IP addresses, hosting providers, themes, and ownership details to make them appear unrelated. Within the content published on these sites, links are strategically placed that point to the main website the owner wants to rank higher. By doing this, the owner attempts to pass link equity (also known as “link juice”) from the PBN sites to the target website.
The purpose of a PBN is to give the impression that the target website is naturally earning links from multiple independent sources. If done effectively, this can temporarily improve keyword rankings, increase organic visibility, and drive more traffic from search results.