Iman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala merupakan rezeki utama seorang hamba, landasan keselamatannya, dan hal yang paling berharga baginya. Menurut Ahlussunnah, keimanan diwujudkan dalam perkataan dan perbuatan, bisa bertambah dan berkurang, bertambah dengan ketaatan, dan berkurang dengan kemaksiatan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
Agar mereka bertambah keimanan dengan keimanannya
“Agar keimanan mereka bertambah di samping keimanan yang sudah ada.” (QS. Al-Fath : 4).
Oleh karena itu, hati orang mukmin bisa bertambah dan ada pula yang berkurang. Kenaikan dan penurunannya tergantung pada laju faktor-faktor yang mempengaruhi kenaikan dan penurunan tersebut. Imam Al-Hakim Rahimahullah meriwayatkan dalam kitabnya Al-Mustadrak dari Abdullah bin Umar Radhiyallahu ‘anhuma dari Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam bahwa beliau bersabda:
Iman tercipta dalam diri seseorang sebagaimana terciptanya pakaian, maka mohonlah kepada Allah agar memperbaharui keimanan dalam hatimu.
“Sesungguhnya iman itu bisa menjadi usang (pudar) di dalam hati salah seorang dari kalian sebagaimana usangnya sebuah pakaian. Maka memohonlah kepada Allah agar Dia memperbarui iman di dalam hati kalian.” (HR. Al-Hakim).
Berkurangnya iman merupakan salah satu penyakit yang paling berbahaya yang dapat mengidap hati yang beriman, karena itu dapat menimbulkan hal-hal yang mempengaruhi keagamaan dan amalan seorang hamba. Dengan melemahnya iman, keyakinan juga akan berkurang, rasa tawakal ikut surut, rasa diawasi Allah Subhanahu wa Ta’ala semakin pudar, dada terasa sempit, dan hati menjadi keras. Ketika hati sudah keras, maka gejolak hati mudah berubah, sulit tersentuh oleh Al-Qur’an atau bahkan tidak sama sekali, lalu insan itu akan mulai menempuh jalan kelalaian, dan sedikit demi sedikit mulai mengabaikan sunnah-sunnah dan amalan-amalan yang dianjurkan, kemudian meremehkan pelaksanaan amalan-amalan wajib, kemudian terjerumus ke dalam kemaksiatan dan kemungkaran, dan begitu seterusnya.
Semua hal-hal buruk ini akan terus merasuki hati seiring dengan semakin melemahnya keimanan di dalamnya. Siklus ini tidak akan berhenti kecuali Allah Subhanahu wa Ta’ala memberinya pertolongan dan membangunkannya dari kelalaian tersebut serta menyadarkannya tentang betapa bahaya jalan yang sedang ia tempuh. Hal ini dapat diraih dengan berhenti dari setiap faktor pelemah iman dan mengamalkan faktor-faktor penguatnya.
Sebab-sebab melemahnya iman
Ada beberapa faktor yang membuat iman menjadi lemah atau bahkan luntur dari hati, di antaranya adalah:
1. Jauh dari lingkungan keimanan
Inilah awal jalan menuju ketergelinciran dan awal langkah menuju melemahnya keimanan. Akibat pertama dari menjauhi ranah keimanan adalah berhenti menjalankan faktor-faktor yang menguatkan dan meningkatkan keimanan. Inilah titik awal kemunduran dan melemahnya keimanan, sehingga seseorang akan mulai berhenti mendengarkan nasehat dan hal-hal lain yang melembutkan hati. Tidak ada lagi Al-Qur’an yang membasahi hati yang gersang dan tidak ada lagi nasehat yang menyiraminya agar tumbuh benih-benih taubat, berserah diri, cinta, dan ridha kepada Yang Maha Kuasa. Energi keimanan dalam hatinya melemah sedikit demi sedikit, hingga tak mampu menggerakkan pemiliknya menuju ketaatan dan melewati jurang fitnah dan kemaksiatan yang mematikan. Oleh karena itu, para Salaf biasa saling berpesan, “Mari kita renungkan sejenak!” agar pohon iman tetap menyala di dalam hati mereka, hingga semak-semak hawa nafsu dan hawa nafsu terbakar olehnya.
2. Pertemanan yang buruk
Teman dapat menjerumuskan, perilaku dapat menular, dan tabiat dapat ditiru. Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam mengumpamakan teman yang buruk dengan seorang pandai besi yang hanya membawa keburukan bagimu, ia itu “antara ia membakar bajumu, atau memberimu bau yang menyengat.” Berinteraksi dan berteman dengan para pelaku kefasikan dan kemaksiatan tidak membawa manfaat dan kemaslahatan apa pun. Justru mereka menjadi musibah di dunia dan bencana di akhirat, sehingga orang yang menemani mereka akan mendapat penyesalan berat.
Dan pada hari penindas itu menggigit tangannya, dia akan berkata, “Seandainya aku menempuh jalan bersama Rasulullah. Wahai celaka! Seandainya aku tidak menjadikan si fulan sebagai sahabat. Dia telah menyesatkanku dari Zikir setelah itu datang kepada-Ku. Dan Setan adalah pencela manusia.
“Dan (ingatlah) pada hari (ketika) orang yang menzalimi itu menggigit tangannya sambil berkata: ‘Celakalah aku jika (sebelumnya) aku menempuh jalan bersama Rasulullah. Sungguh malang bagiku, jika aku (sebelumnya) tidak menjadikan ini dan itu sahabat (saya). Sesungguhnya dia telah menyesatkan saya dari Al-Qur’an ketika Al-Qur’an itu datang kepada saya. Al-Furqan: 27-29).
3. Terlalu sibuk dengan dunia
Hati yang terlalu fokus dengan fatamorgana dunia, selalu terpaut dengan syahwat-syahwat dan kenikmatannya, dan begitu sibuk dalam meraup dan mengumpulkannya, hingga dunia membuatnya lupa terhadap akhirat. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mencela sikap seperti ini dalam Kitab-Nya:
Wahai orang-orang yang beriman, jangan biarkan hartamu atau anak-anakmu mengalihkan perhatianmu dari mengingat Allah. Dan siapa yang melakukan itu, merekalah yang merugi.
“Hai orang-orang yang beriman! Jangan sampai harta bendamu dan anak-anakmu melalaikanmu dari mengingat Allah. Dan siapa yang melakukan hal itu, maka merekalah yang merugi.” (QS. Al-Munafiqun : 9).
Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam juga mencela pelaku dalam sabdanya:
Barangsiapa yang perhatiannya pada dunia, maka Allah akan memisahkan urusannya untuknya, dan meletakkan kemiskinannya di depan matanya, dan tidak ada sesuatu pun dari dunia yang akan datang kepadanya kecuali yang telah ditetapkan baginya.
“Barangsiapa menjadikan dunia sebagai tujuan utamanya, maka Allah akan membubarkan urusannya, menjadikan kemiskinan selalu menjadi bayangan di depan matanya, dan dunia tidak akan datang kepadanya kecuali yang telah ditentukan baginya.” (HR. At-Tirmidzi).
Bahkan terkadang ada orang yang semakin terpaut dengan dunia dan kenikmatannya yang fana, hingga ia tidak melihat kepada selainnya dan menjadi budaknya, seperti yang disebutkan dalam hadis:
Hamba dinar, hamba dirham, dan hamba khamisah sungguh sengsara. Jika diberi, ia merasa puas, dan jika tidak diberikan, ia tidak senang. Dia sengsara dan kambuh, dan jika dia ragu, dia tidak sembuh.
“Celakalah hamba dinar, hamba dirham, dan hamba pakaian mewah, jika diberi maka ia merasa puas, dan jika tidak diberikan maka ia marah. Celakalah mereka dan tersungkur! (HR. Al-Bukhari).
4. Pemikiran default dan angan-angan
Yang dimaksud dengan panjang angan yakni terus menerus tamak dan fokus terhadap dunia, dibarengi dengan banyaknya berpaling dari akhirat. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
Kerumunan mengalihkan perhatian Anda sampai-sampai Anda mengunjungi kuburan
“Bermegah telah mengabaikanmu sampai kamu masuk alam kubur.” (QS. At-Takatsur : 1-2).
Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman:
Hari kiamat bagi mereka sudah dekat bagi manusia, dan mereka lalai, berpaling dari peringatan apa pun yang datang kepada mereka dari Tuhan mereka dari Tuhan mereka. Mereka hanya mendengarkannya saat sedang bermain game. hati mereka
“Hari pembalasan bagi amal-amal mereka sudah dekat bagi manusia, sedang mereka lengah dan berpaling (darinya). Tidak pernah datang kepada mereka satu ayat pun yang diturunkan dari Tuhannya, melainkan mereka mendengarnya, ketika mereka sedang bermain, (sekali lagi) hati mereka berada dalam keadaan lalai.” (QS. Al-Anbiya : 1-2).
Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman:
Biarkan mereka makan dan bersenang-senang dan menginspirasi mereka dengan harapan, dan mereka akan mengetahuinya
“Biarkan mereka (di dunia ini) makan dan bersenang-senang serta terbengkalai oleh mimpi-mimpi (kosong), maka kelak mereka akan mengetahui (akibat perbuatannya).” (QS. Al-Hijr : 3).
Panjang angan dapat mendorong kepada kemaksiatan dan menjauhkan dari ketaatan. Ia merupakan salah satu sebab seseorang berani melanggar hal-hal yang haram, menzalimi orang lain, dan merampas hak mereka. Oleh sebab itu, janganlah kamu terbuai oleh umur panjang, kebugaran masa muda, atau kekuatan badan.
Dahulu Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam selalu memperingatkan hal ini dalam hadisnya, seperti sabdanya kepada Ibnu Umar:
Jadilah di dunia ini seolah-olah Anda adalah orang asing atau musafir.
“Jadilah kamu di dunia ini seolah-olah kamu adalah orang asing atau seorang musafir (yang sekedar lewat).” (HR. Al-Bukhari).
Diriwayatkan bahwa Ali Radhiyallahu ‘anhu pernah berkata: “Sungguh hal yang paling saya takutkan pada kalian adalah menuruti hawa nafsu dan panjang angan. Adapun menuruti hawa nafsu, itu dapat menghalangi kalian dari kebenaran, sedangkan panjang angan, itu dapat melalaikan kalian terhadap akhirat.”
Umar bin Abdul Aziz pernah berujar dalam khutbahnya: “Janganlah masa kelalaian kalian berlanjut lama, sehingga hati kalian menjadi keras dan akhirnya kalian tunduk kepada musuh kalian.”
5. Hilangnya figur teladan yang baik
Figur yang menjadi teladan yang baik telah lama hilang dari hati dan pandangan manusia, atau memang sengaja dihilangkan. Lalu dijunjung bagi mereka sosok-sosok panutan yang tidak punya bobot dalam timbangan keberanian, adab, kehormatan, akhlak, dan kepahlawanan hakiki meski hanya seberat sehelai rambut atau seekor semut. Orang-orang remeh, bodoh, pelaku kemaksiatan dan kefasikan disuguhkan ke hadapan generasi muda dan masyarakat umum di televisi-televisi, para manusia yang sangat jauh dari agama, ilmu, akhlak, dan ilmu pengetahuan, sehingga orang-orang meniru mereka, sehingga ikut terjerembab ke titik terendah dalam segala aspek kehidupan.
6. Tenggelam dalam kemaksiatan
Ini pertanda melemahnya keimanan, dan salah satu akibat lemahnya keimanan sekaligus menjadi penyebabnya. Ketika agama seorang hamba rapuh dan imannya lemah, maka ia mudah terjerumus ke dalam kemaksiatan dan dosa. Ketika ia sudah terjerumus ke dalamnya, itulah yang kemudian menjadi penyebab mengapa imannya semakin lemah dan hatinya semakin sakit.
Ibnu Abbas berkata: “Sesungguhnya perbuatan dosa dapat menimbulkan aura hitam pada wajah, kegelapan pada hati, lemahnya badan, berkurangnya rezeki, dan kebencian di hati orang lain terhadapnya.”
Setiap dosa akan menimbulkan titik hitam dalam hati. Apabila seseorang tidak bertobat dari dosa itu, hatinya akan semakin hitam, hingga menutupi semuanya, lalu mencekiknya atau mematikannya. “Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu telah menutupi hati mereka.” (QS. Al-Mutaffifin: 14).
Demikianlah beberapa faktor yang dapat melemahkan hati. Dengan menghindari faktor-faktor itu dan menjalankan hal-hal yang menyelisihinya, keimanan seorang muslim akan menjadi kuat.
Sumber:
Sumber artikel PDF
🔍 Hukum Tawaf Wada, Hukum Shalat Dalam Keadaan Junub, Hukum Islam Tinggal Serumah Dengan Mertua, Doa Agar Cepat Diberi Keturunan Menurut Islam, Suami Nyusu Ke Istri
Dikunjungi 1 kali, 1 kunjungan hari ini
Tampilan Postingan: 0
PakarPBN
A Private Blog Network (PBN) is a collection of websites that are controlled by a single individual or organization and used primarily to build backlinks to a “money site” in order to influence its ranking in search engines such as Google. The core idea behind a PBN is based on the importance of backlinks in Google’s ranking algorithm. Since Google views backlinks as signals of authority and trust, some website owners attempt to artificially create these signals through a controlled network of sites.
In a typical PBN setup, the owner acquires expired or aged domains that already have existing authority, backlinks, and history. These domains are rebuilt with new content and hosted separately, often using different IP addresses, hosting providers, themes, and ownership details to make them appear unrelated. Within the content published on these sites, links are strategically placed that point to the main website the owner wants to rank higher. By doing this, the owner attempts to pass link equity (also known as “link juice”) from the PBN sites to the target website.
The purpose of a PBN is to give the impression that the target website is naturally earning links from multiple independent sources. If done effectively, this can temporarily improve keyword rankings, increase organic visibility, and drive more traffic from search results.