Dua Santri Trensains Tebuireng Lolos ke Final OSN 2026


Ilustrasi: Ayu

Tebuireng.online— Prestasi membanggakan kembali ditorehkan SMA Trensains Tebuireng. Dua santrinya, Rakha Rasendriya dan Mujahid ‘Ammar, berhasil melaju hingga babak Final Olimpiade Sains Nasional (OSN) 2026 dan akan mewakili Jawa Timur di tingkat nasional. Rakha berkompetisi di bidang Kebumian, sedangkan Mujahid di bidang Astronomi.

Baca Juga: Siswa SMA Trensains Tebuireng Raih Prestasi Akademik di Ajang SIMSO Thailand

Keberhasilan tersebut menjadi capaian penting bagi SMA Trensains Tebuireng. Kepala SMA Trensains Tebuireng, H. Haerul Anam, S.Pd.I., mengatakan pencapaian ini merupakan hasil dari proses pembinaan dan evaluasi yang dilakukan secara berkelanjutan.

“Kita terus belajar bagaimana bisa mengantarkan siswa kita lolos sampai final ke tingkat nasional. Evaluasi dari tahun-tahun sebelumnya menjadi modal kita untuk bisa lebih baik,” ujar Haerul Anam saat diwawancarai, Sabtu (22/8).

Menurutnya, proses pembinaan peserta OSN di Trensains dimulai sejak siswa berada di kelas X. Para siswa terlebih dahulu diseleksi, kemudian mendapatkan pembinaan intensif dari guru sesuai bidang yang diikuti.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

“Alhamdulillah, sekian hari mereka semakin menunjukkan progres yang baik, di bawah bimbingan guru yang profesional,” katanya.

OSN merupakan ajang kompetisi sains yang diselenggarakan Kementerian Pendidikan secara berjenjang, mulai dari tingkat kabupaten/kota, provinsi, hingga nasional. Kompetisi ini diikuti peserta dari berbagai jenjang pendidikan, mulai SD hingga SMA sederajat.

Baca Juga: Siswi SMA Trensains Tebuireng Raih Medali Emas ISYC 2026 Bidang Biologi

Rangkaian OSN 2026 telah dimulai sejak Februari dengan tahapan pendaftaran. Uji coba OSN tingkat kabupaten/kota (OSN-K) berlangsung pada Mei, kemudian pelaksanaan OSN-K pada Juni. Tahap provinsi dilaksanakan pada Juli, dilanjutkan semifinal pada 12 Agustus. Sementara itu, Final Nasional dijadwalkan berlangsung pada 14–20 September 2026.

“Untuk tingkat kabupaten dilaksanakan di sekolah masing-masing dengan pengawasan secara online. Kemudian bagi yang lolos diadakan di Surabaya dan untuk Grand Final akan diadakan di Kota Batu, Malang,” jelas Haerul Anam.

Mujahid ‘Ammar, santri asal Kediri, mengaku ketertarikannya terhadap bidang Astronomi telah tumbuh sejak kecil. Ia kerap menyaksikan berbagai video yang membahas luasnya alam semesta. Ketertarikan tersebut kemudian membawanya untuk mengikuti kompetisi Astronomi di OSN 2026.

“Dari kecil saya suka menonton video tentang luasnya alam semesta,” ungkap Mujahid.

Namun, perjalanan menuju final tidak sepenuhnya mudah. Salah satu tantangan yang ia hadapi adalah keterbatasan pengamatan langit secara langsung akibat polusi cahaya di sekitar lingkungan tempat tinggal dan belajar.

“Kesulitannya di Astronomi, pengamatan di sini sedikit kurang karena ada polusi cahaya. Tidak bisa melihat langit secara bebas,” ujarnya.

Selain pengamatan, Mujahid juga harus mengejar materi yang terkadang cukup kompleks. Ia mengaku pernah mengalami ketertinggalan ketika mengikuti pembelajaran. Meski demikian, ia berusaha menjaga kondisi diri agar proses belajar tidak berubah menjadi beban.

Baca Juga: SMA Trensains Tebuireng Gelar ICECO 2026, Sajikan Olimpiade Sains-Islam Terintegrasi untuk Pelajar SMP/MTs

“Kalau belajar jangan stres, nanti tidak fokus. Istirahat,” katanya.

Mujahid mengaku terkejut sekaligus bersyukur ketika mengetahui dirinya berhasil melaju ke babak final. Sebelumnya, saat SMP, ia juga pernah memiliki pengalaman berkompetisi dan meraih posisi kedua dalam lomba Bahasa Arab tingkat Jawa Timur.

Sementara itu, Rakha Rasendriya, santri asal Bojonegoro, mulai tertarik mengikuti kompetisi sains setelah bergabung dalam klub pembinaan lomba di SMA Trensains Tebuireng sejak kelas X.

“Awalnya dari kelas X itu ada club yang dididik untuk lomba, mengerjakan soal bersama-sama. Itu yang membuat saya tertarik,” tutur Rakha.

Ia kemudian memperdalam materi melalui kursus dan belajar secara mandiri. Dalam bidang Kebumian, materi yang dihadapi cukup beragam karena mencakup sejumlah disiplin ilmu, seperti geologi, oseanografi, meteorologi, dan astronomi.

Salah satu tantangan yang masih dirasakan Rakha adalah membaca grafik dan menginterpretasikan data. Menurutnya, terkadang hubungan antara data yang ditampilkan dalam grafik dengan persoalan yang ditanyakan belum langsung dapat dipahami.

“Kesulitannya membaca grafik data, karena kadang hubungannya belum bisa saya tangkap. Cuma kelihatan garis di soalnya,” jelasnya.

Meski demikian, proses belajar bersama dalam pembinaan membuatnya semakin memahami pola soal dan materi yang diujikan.

Dalam hal ini, Haerul Anam menilai keikutsertaan santri dalam OSN tidak hanya berorientasi pada prestasi. Menurutnya, capaian tersebut menjadi bagian dari upaya pesantren menunjukkan kontribusinya dalam perkembangan pendidikan sains di Indonesia.

Baca Juga: Aplikasi Anti Penipuan Berbasis AI Antar Siswi SMA Trensains Tebuireng Raih Penghargaan di Malaysia

“Ini adalah salah satu jalan syiar kami orang-orang pesantren, untuk bisa menunjukkan bahwa pesantren tidak hanya unggul dalam bidang agama, tapi juga unggul dalam bidang mapel sains dan mapel umum lainnya,” ujarnya.

Ia juga menyebut OSN sebagai salah satu tolok ukur kualitas pendidikan karena ajang tersebut mempertemukan siswa dari berbagai sekolah negeri maupun swasta di seluruh Indonesia.

“Ini sebuah lomba yang sangat bergengsi yang diikuti oleh seluruh sekolah, baik itu negeri maupun swasta se-Indonesia. Dan ini salah satu tolok ukur kualitas pendidikan yang ada di Pesantren Sains Tebuireng,” tuturnya.

Bagi Rakha dan Mujahid, capaian hingga babak final bukan menjadi akhir dari proses. Keduanya berharap dapat memberikan hasil terbaik dan meraih medali emas. Rakha juga berharap prestasi tersebut dapat dilanjutkan oleh santri-santri Trensains pada masa mendatang.

Di tengah persiapan menuju final, keduanya memiliki cara masing-masing dalam menjaga semangat belajar. Bagi mereka, belajar tidak harus selalu menjadi tekanan, tetapi perlu dijalani dengan nyaman dan menyenangkan.

Baca Juga: Raih Gold Medal di IICYMS 2026, Enam Siswi SMA Trensains Tebuireng Kembangkan Sereal Pencegah Anemia

Haerul Anam pun berharap perjuangan keduanya tidak hanya menghasilkan prestasi, tetapi juga membawa keberkahan dan manfaat.

“Harapan saya anak-anak kami mendapatkan ilmu yang barokah dan manfaat dan bisa menunjukkan ke dunia bahwa mondok itu keren,” pungkasnya.



 


PakarPBN

A Private Blog Network (PBN) is a collection of websites that are controlled by a single individual or organization and used primarily to build backlinks to a “money site” in order to influence its ranking in search engines such as Google. The core idea behind a PBN is based on the importance of backlinks in Google’s ranking algorithm. Since Google views backlinks as signals of authority and trust, some website owners attempt to artificially create these signals through a controlled network of sites.

In a typical PBN setup, the owner acquires expired or aged domains that already have existing authority, backlinks, and history. These domains are rebuilt with new content and hosted separately, often using different IP addresses, hosting providers, themes, and ownership details to make them appear unrelated. Within the content published on these sites, links are strategically placed that point to the main website the owner wants to rank higher. By doing this, the owner attempts to pass link equity (also known as “link juice”) from the PBN sites to the target website.

The purpose of a PBN is to give the impression that the target website is naturally earning links from multiple independent sources. If done effectively, this can temporarily improve keyword rankings, increase organic visibility, and drive more traffic from search results.

Jasa Backlink

Download Anime Batch