Durhaka terhadap Anak – KonsultasiSyariah.com

Oleh : Hibah Hilmi Al-Jabiri

Kita selalu membicarakan tema berbakti dan durhaka terhadap kedua orang tua, tapi tidak terbersit dalam pikiran kita meski hanya sekilas bahwa bisa saja kita (sebagai orang tua) yang justru durhaka terhadap anak-anak kita, dengan buruknya sikap kita, perlakuan kasar kita, ketidakadilan kita di antara mereka, atau kelalaian kita terhadap mereka. Banyak ayah dan ibu yang berada dalam ketegangan saraf akibat masalah-masalah hidup. Sudah menjadi ciri khas zaman ini sikap impulsif dan cepatnya terpancing emosi. Seorang ibu tidak mungkin dapat meluapkan emosi kepada suaminya, sehingga ia meluapkannya kepada anaknya yang lemah. Begitu juga ayah yang tidak mungkin melampiaskan emosi kepada direkturnya di tempat kerja, akhirnya ia melampiaskannya kepada istri dan anak-anaknya. Hal ini karena anak-anak masih lemah, tidak punya kemampuan untuk membela diri, akhirnya kita menghukum mereka atas sesuatu yang tidak ada kaitannya sama sekali dengan mereka, kita meruntuhkan mental mereka, dan sering kali kita yakin bahwa kekerasan adalah metode terbaik untuk mendidik mereka.

Kita tidak pernah merenung sejenak, untuk sadar bahwa kita akan mendapat balasan atas kezaliman kita terhadap anak-anak kita, ketika kita memukul mereka secara zalim, atau berburuk sangka terhadap mereka dan langsung menghukum mereka atas dasar dugaan tanpa bukti, atau kita sudah tertekan dan merasa tidak mampu lagi menanggung tingkah laku dan permainan mereka, tanpa menyadari bahwa pukulan atau hukuman jika lebih besar daripada tingkat kesalahannya, maka mereka akan menuntut balas terhadap kita pada hari kiamat kelak!

Alkisah ada seorang laki-laki yang datang dan duduk tepat di hadapan Rasulullah SAW sambil berkata: “Ya Rasulullah! Aku mempunyai dua orang budak yang membohongiku, mengkhianatiku, dan mendurhakaiku. Lalu aku memarahi dan memukuli mereka. Bagaimana nasibku dengan mereka?” Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam menjawab: “Ketika hari kiamat tiba, apa yang telah mereka khianati, mereka ingkari, dan mereka membohongimu dengan siksamu terhadap mereka, jika siksamu terhadap mereka sebanding dengan dosa-dosa mereka, maka genap, tidak ada (pahala) bagimu dan tidak ada (dosa) bagimu. dosa, maka akan dijadikan qisas bagi mereka terhadap kamu untuk keuntungan itu.” Kemudian laki-laki itu berdiri di samping dan mulai menangis dan menangis, lalu Rasulullah bersabda kepadanya: “Tidakkah kamu membaca firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala: ‘Dan Kami akan memasang timbangan yang akurat pada hari kiamat, sehingga tidak ada seorang pun yang dirugikan sedikit pun, dan jika (amalannya) hanya seberat biji sawi, niscaya Kami akan mendatangkannya (pahala/dosa). Dan itu cukup bagi Kami untuk menghitungnya.’ (QS. Al-Anbiya : 47).

Laki-laki itu berkata: Ya Rasulullah, aku tidak menemukan sesuatu pun yang lebih baik bagiku dan bagi mereka selain berpisah dengan mereka, aku bersaksi kepadamu bahwa mereka semua adalah orang-orang yang merdeka (aku memerdekakan mereka).” (HR. At-Tirmidzi).

Ketika seseorang yang menghukum seorang budak melebihi apa yang seharusnya dihukum oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala sesuai dengan tingkat kehebatannya dalam menghukum dan membalasnya, maka bagaimana dengan menghukum selain budak, terutama anak kecil?!

Kita durhaka terhadap anak-anak ketika kita memperlakukan mereka dengan berbeda-beda, bahkan dari sisi ciuman, pelukan, dan senyuman bagi mereka. Kita menanamkan kecemburuan dan kebencian di antara mereka. Juga ketika kita membedakan cinta antara anak laki-laki dan perempuan, atau ini berbakat dan itu tidak, atau atas alasan apa pun, kita tidak punya pembenaran apa pun untuk membeda-bedakan mereka.

Kita durhaka terhadap anak-anak kita ketika kita lalai terhadap mereka. Dalam syair disebutkan:

Anak yatim piatu bukanlah orang yang orangtuanya menyerah begitu saja dalam mengurus kehidupannya dan membiarkannya terhina.

Anak yatim bukanlah orang yang orang tuanya tiada,

Dari hiruk-pikuk kehidupan dan meninggalkannya dalam keadaan terlantar.

Anak yatim adalah orang yang mempunyai ibu yang menelantarkannya atau ayah yang sibuk.

Namun anak yatim sejati adalah yang mendapati ibunya,

Tapi mengabaikannya dan ayah yang sibuk darinya.

Kita mengabaikan mereka dengan kesibukan, teman-teman, dan gawai-gawai kita. Kita harus mendekat kepada anak-anak kita, membuat mereka merasakan cinta kita kepada mereka, membuat mereka merasa bahwa mereka adalah hal terpenting dalam hidup kita. Dalam hiruk-pikuk kehidupan ini kita lupa untuk mengucapkan kepada mereka ucapan lembut atau memanggil mereka dengan panggilan “Sayang!” atau juga memeluk mereka dan membuat mereka merasakan kehangatan kasih kita. Kita habiskan waktu bersama gawai-gawai kita lebih banyak daripada yang kita habiskan bersama anak-anak kita. Sering kali kita tertawa lebih kencang ketika menulis pesan di Whatsapp atau Facebook daripada ketika tertawa, bermain, dan bercanda dengan mereka.

Kita harus menyisihkan waktu –meski hanya satu hari dalam seminggu– untuk bersama anak-anak saja, melupakan segala urusan selain urusan dengan mereka, membuat mereka merasakan kedekatan kita dengan mereka. Kita tidak ingin anak-anak kita hidup seperti anak yatim ketika kita masih hidup.

Kita durhaka terhadap anak-anak ketika kita abai terhadap pengasuhan mereka. Kita mengira apabila telah mendaftarkan mereka ke sekolah terbaik, memberi mereka makanan paling lezat, dan membelikan mereka pakaian paling mahal, maka kita telah menjalankan kewajiban kita dengan itu.

Ada orang yang berinvestasi melalui hartanya, tapi ada juga orang yang berinvestasi melalui anak-anaknya. Betapa banyak anak orang-orang miskin yang lebih berprestasi berkat pengasuhan dan perhatian yang baik dari mereka. Prestasi dan pendidikan yang baik tidak ada hubungannya dengan kekayaan atau kemiskinan, tapi kaitannya adalah dengan pengasuhan dan usaha yang dikerahkan.

Apakah kita telah menanyakan anak-anak kita tentang shalat dan puasa? Selalu berusaha membangunkan mereka untuk shalat subuh seperti kita membangunkan mereka untuk pergi sekolah? Apakah kita telah berusaha membuat mereka hafal Al-Qur’an sebagaimana usaha kita agar mereka mendapat nilai akhir yang bagus di sekolah? Apakah kita mengawasi pergaulan mereka dan menjauhkan mereka dari teman-teman yang buruk? Apakah kita telah menanamkan nilai-nilai dan akhlak, atau kita membiarkan mereka diasuh oleh televisi, gawai, dan teman-teman mereka? Apakah kita sibuk dengan pekerjaan kita lalu membuang anak-anak kita di tempat pengasuhan atau kepada pembantu dan juga nenek-nenek mereka agar mengasuh mereka?

Kita harus mengatur ulang pola pikir kita, menyusun kembali prioritas kita dan metode interaksi kita serta perhatian kita terhadap anak-anak kita. Tidak mungkin kita berniat melakukan perubahan tanpa kita menggandeng tangan mereka bersama kita. Sebagaimana kita berusaha keras untuk mendekat kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, kita juga harus berusaha keras untuk mendekatkan anak-anak kita kepada-Nya, dan supaya mereka berjalan bersama kita meniti jalan yang telah kita awali ini, dan dengan izin Allah Subhanahu Wa Ta’ala ujung jalannya adalah surga.

Penerapan praktis

Jagalah anak-anakmu dari sisi agama dan akhlaknya. Tanamkan nilai-nilai keagamaan dalam diri mereka melalui mendengarkan kajian, membaca buku, dan mencoba memahaminya, atau dengan membelikan buku anak tentang pendidikan agama.

Mulailah segera mengajarkan anak-anakmu Al-Qur’an, mengajak mereka menghafalnya, dan membuat mereka terpaut dengannya melalui TPA di masjid atau program sendiri di rumah.

Sisihkan waktu khusus setiap hari atau setiap minggu bersama anak-anakmu, untuk duduk dengan mereka, mengetahui kabar-kabar mereka, mengenal hal-hal yang mereka sukai, dan bermain bersama.

Bacalah buku-buku parenting dan mempelajari metode-metode pengasuhan yang benar. Saya rekomendasikan buku Ta’sis Aqliyah ath-Thifli (Membangun kecerdasan anak) karya Abdul Karim Bakkar.

Melakukan alternatif lain dalam menghukum, tanpa memukul dan melakukan kekerasan fisik maupun mental.

Gantilah kata-kata kasar dengan kata-kata yang penuh kasih sayang, seperti “Sayangku!”

Sumber:

Sumber artikel PDF

🔍 Gambaran Surga Firdaus, Khasiat Daging Kambing Menurut Islam, Cara Mengatasi Suami Pemarah Dan Cuek, Cara Mengisi Khodam Ke Tubuh Sendiri, Jilbab Langsung Tangan

Dikunjungi 39 kali, 1 kunjungan hari ini


Tampilan Postingan: 4

PakarPBN

A Private Blog Network (PBN) is a collection of websites that are controlled by a single individual or organization and used primarily to build backlinks to a “money site” in order to influence its ranking in search engines such as Google. The core idea behind a PBN is based on the importance of backlinks in Google’s ranking algorithm. Since Google views backlinks as signals of authority and trust, some website owners attempt to artificially create these signals through a controlled network of sites.

In a typical PBN setup, the owner acquires expired or aged domains that already have existing authority, backlinks, and history. These domains are rebuilt with new content and hosted separately, often using different IP addresses, hosting providers, themes, and ownership details to make them appear unrelated. Within the content published on these sites, links are strategically placed that point to the main website the owner wants to rank higher. By doing this, the owner attempts to pass link equity (also known as “link juice”) from the PBN sites to the target website.

The purpose of a PBN is to give the impression that the target website is naturally earning links from multiple independent sources. If done effectively, this can temporarily improve keyword rankings, increase organic visibility, and drive more traffic from search results.

Jasa Backlink

Download Anime Batch