Memahami Ketauhidan secara Bertahap | Tebuireng Online


ilustrasi tauhid

Ilmu tauhid yang kita fahami sampai dengan saat ini adalah hasil dari menghafal dari usia Taman Kanak-Kanak (TK), dengan nada/irama khas ke-NU-an, jika seseorang belum mempelajari lebih mendalam dan juga belum mempraktikkan (ilmu laku) maka yang terpikir adalah hafalan sifat-sifat Allah yang 50 termasuk mustahil-Nya (Agoid 50). Nah, untuk mendalami ilmu tauhid seseorang wajib berguru/mencari pembimbing rohani agar dalam memahami tidak terjadi bias,

Hadratusshaikh KH. Hasyim Asyari, dalam kitabnya yang berjudul Adab al-Alim wa al-Muta’alimmenyebutkan bahwa setiap murid hendaknya memulai pada pelajaran yang sifatnya fardlu ‘ain. Yaitu, belajar 3 jenis ilmu, yaitu: ilmu tauhid, ilmu fikih dan ilmu tasawuf, sebagaimana keterangan di bawah ini:

Pertama, murid harus mengetahui ilmu tauhid, ilmu yang membahas masalah ketuhanan. Sehingga, ia nanti akan berkeyakinan bahwa Allah SWT itu wujud, mempunyai sifat Qadim (Awal), yang akan selalu tetap ada sampai kapan pun dari awal diciptakannya manusia hingga kembali pulang menghadap Allah SWT, serta bersih dari sifat mustahil (tidak mungkin) dan mempunyai sifat sempurna (kesempurnaan yang sempurna)

Seorang murid harus mengetahui sifat wajib Allah, bahwa Allah itu mempunyai sifat wajib dua puluh (20) sekaligus dapat membuktikan-Nya. Dalam hal ini, murid tahu yang Maha Tinggi itu mempunyai sifat  Kuasa (Qudrat), Berkehendak (Iradat), sifat Ilmu (Al-‘ilm), Hidup (Hayat), Mendengar (Sama’), Melihat (Bashar), dan Berbicara (Kalam). Pada perkembangannya, seandainya murid  bisa mengetahui/memahami dalil-dalil sifat wajib Allah lebih dari apa yang dijelaskan di dalam al-Quran atau sunnah, maka hal itu lebih sempurna seutuhnya.

Kedua, ilmu Fiqh, ilmu untuk mengetahui dan menyampaikan ketaatan kepada Tuhan, seperti cara bersuci, shalat, dan puasa serta haji, atau yang disebutkan dalam rukun Islam. Jika seorang pelajar mempunyai harta yang melimpah, maka hendaknya ia mempelajari ilmu yang berhubungan dengan harta tersebut. Ia tidak boleh mengamalkan suatu ilmu sebelum ia memahami hukum-hukum Allah.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Ketiga, ilmu tasawuf, yaitu ilmu yang menjelaskan tentang berbagai keadaan, maqam, (tingkatan), akhlak, dan membahas kebimbangan dan tipu daya nafsu dan hal-hal yang berkaitan dengannya.

Menurut Hadratussyeikh KH Hasyim Asyari, secara keseluruhan, hal-hal di atas telah dibahas oleh Imam Al-Ghazali dalam kitab Bidayat al-Hidayah. Selain itu juga Sayyid Abdullah bin Thahir dalam kitab tersebut Sullam at Taufiq.

Mempelajari lebih lanjut bahwa ilmu tauhid menurut beberapa ulama dibagi menjadi empat: ilmu syari’at, ilmu tariqah, ilmu hakekat, dan ilmu ma’rifat.

Ilmu Syari’at

Di era sekarang ini, seorang muslim terkadang kebingungan atau terkotak-kotak dalam membedakan syariat, ketertiban, kebenaran, dan pencerahan. Tentang apa semua ini? Apakah ini kajian akademis atau dogma? Syari’at adalah ilmu tentang perintah dan larangan Allah yang wajib disampaikan kepada para Nabi dan Rasul melalui jalur wahyu (wahyu tasyri’), sesuai dengan hadits:

Dari hadis Abu Abdul Rahman Abdullah bin Umar bin Al-Khattab radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Putraku Islam didasarkan pada lima hal: bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Tuhan dan bahwa Muhammad adalah Utusan Tuhan, mendirikan shalat, membayar zakat, menunaikan haji ke Rumah, dan puasa Ramadhan” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Artinya : Dari Abu ‘Abdurrahman ‘Abdullah bin ‘Umar bin Al-Khattab semoga Allah memberkati dia dan memberinya kedamaian berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam Dikatakan: “Islam dibangun di atas lima perkara: bersaksi bahwa tidak ada yang berhak disembah selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, haji (ke Baitullah), dan berpuasa Ramadhan”.

Dari hadis di atas diketahui bahwa ilmu syariat mengajarkan hukum-hukum Allah yang menitikberatkan pada mengenal hukum-hukum Allah. Dalam kata lain rukun Islam tersebut masih pada tahapan ucapan dengan lisan dan diamalkan dengan anggota badan (jasadiyah) sebatas pengamalan zahir belum menyentuh hati (qalbu), dengan begitu rukun Islam melahirkan dengan sebutan ilmu syari’at.

Pengetahuan tentang Tariqah

Tarekat (bahasa Arab: طرق, transliterasi: tariqah) berarti “jalan” atau “metode”, dan mengacu pada aliran keagamaan tasawuf atau tasawuf/ilmu tauhid, yaitu jalan (kajian) yang mengajak menuju jalan Tuhan melalui suluk (taqarrub) yang biasa dilakukan dengan salik/tindakan hati (dalam bahasa Jawa). Jadi bagi ilmu tarekat, titik temunya berasal dari hati. Jika rukun Islam melahirkan ilmu syariah, maka rukun iman melahirkan ilmu tarekat.

Sains Nyata

Pengetahuan tentang realitas adalah pemahaman batin (iman) terdalam terhadap kebenaran sejati (al-Haqq) tentang Tuhan, alam, dan diri, yang dicapai melalui pengalaman spiritual (dzauk) rasa (bhs. Jawa), bukan sekadar rasionalitas. Inilah hakikat syariat dan tariqah yang menitikberatkan pada penyucian hati (tazkiyatun nafs) untuk makrifatullah (mengenal Allah). Ilmu hakekat ini lahir dari ihsan yang punya kaidah berdasarkan Hadits Jibril:

Menyembah Tuhan seolah-olah Anda melihat-Nya. Jika Anda tidak melihat-Nya, Dia melihat Anda

̣Kamu menyembah Tuhan seolah-olah kamu melihat-Nya. Jika kamu tidak dapat melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu.”

Pengetahuan tentang Pencerahan

Pencerahan adalah ilmu tingkat tertinggi dalam Islam, yang berarti menyaksikan Allah SWT secara mendalam, langsung, dan sesungguhnya melalui mata hati (bashiroh). Ini adalah pengetahuan eksperensial (pengalaman spiritual) yang membuat seseorang merasa melihat kekuasan-Nya pada segala sesuatu, dan mencapai kedamaian rasa yang hakiki. Ilmu ma’rifat ini lahir dari Ihsan yang punya kaidah berdasarkan Hadits Jibril.

Kesimpulan

Ketahuilah Agar supaya keimanan menuju ihsan (ma’rifatullah) dengan metode yang dikenal dengan syari’at, thoriqah, hakikat dan ma’rifat itu sebagai tangga mengevaluasi dalam mengetahui diri yang sejati. Hendaknya sudah tidak membeda-bedakan dan sudah tidak mengatakan “Jangan mempelajari hakikatnya sebelum memahami syariat”.

Untuk menjalani kehidupan sehari-hari, tentunya dengan melafadkan, mengingat, mengenal, dan menyaksikan, berarti kita selalu terhubungan dengan Allah kapan pun dan di mana pun (وهو معكم اينما كنتم ) artinya, Dia bersamamu dimanapun kamu berada. Di situlah jati diri kita berdiri.

Baca Juga: Isi Surat Al-Ikhlas; Inti Doktrin Tauhid dalam Al-Qur’an


Penulis: HM. Amiruddin Asyafi’ie, S.Ag. M.Pd.

Editor: Sutan


PakarPBN

A Private Blog Network (PBN) is a collection of websites that are controlled by a single individual or organization and used primarily to build backlinks to a “money site” in order to influence its ranking in search engines such as Google. The core idea behind a PBN is based on the importance of backlinks in Google’s ranking algorithm. Since Google views backlinks as signals of authority and trust, some website owners attempt to artificially create these signals through a controlled network of sites.

In a typical PBN setup, the owner acquires expired or aged domains that already have existing authority, backlinks, and history. These domains are rebuilt with new content and hosted separately, often using different IP addresses, hosting providers, themes, and ownership details to make them appear unrelated. Within the content published on these sites, links are strategically placed that point to the main website the owner wants to rank higher. By doing this, the owner attempts to pass link equity (also known as “link juice”) from the PBN sites to the target website.

The purpose of a PBN is to give the impression that the target website is naturally earning links from multiple independent sources. If done effectively, this can temporarily improve keyword rankings, increase organic visibility, and drive more traffic from search results.

Jasa Backlink

Download Anime Batch