Pembina Tebuireng Adalah Ujung Tombak Perjuangan Hadratussyaikh


Ustadz Mulya Afif, A.Md., S.A., S.Sy., yang membedah tema strategis “Mapping Peran dan Tugas Pembina” Dalam sesi materi yang berlangsung di Balai Diklat Trensains Tebuireng, Jombok, Ngoro, Senin (02/03/2026). Foto: Fatih

Tebuireng.online– Pesantren Tebuireng terus mematangkan kesiapan kader pembina melalui rangkaian Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) Calon Pembina Santri. Dalam sesi materi yang berlangsung di Balai Diklat Trensains Tebuireng, Jombok, Ngoro, Senin (02/03/2026), para peserta dibekali strategi pemetaan peran dan tugas sebagai garda terdepan pembinaan santri.

Hadir sebagai narasumber, Ustadz Mulya Afif, A.Md., S.A., S.Sy., yang membedah tema strategis “Pemetaan Peran dan Tugas Pembina”. Dalam paparannya, ia menekankan bahwa keberhasilan pendidikan di pesantren sangat bergantung pada kualitas pembinaan di level terkecil, yakni kamar santri.

Ustadz Mulya Afif menguraikan bahwa seorang pembina harus mampu mengintegrasikan empat peran utama dalam kesehariannya. Pertama, sebagai Guru (pendidik) yang membimbing ilmu dan akhlak. Kedua, sebagai Pengawas (penegak aturan) guna memastikan kedisiplinan.

Ketiga, sebagai Syahib (teman) yang mampu menjadi sahabat bagi santri dalam berbagai kondisi. Keempat, sebagai Walid (orang tua) yang memberikan limpahan kasih sayang, perhatian, dan perlindungan layaknya keluarga kandung.

“Pembina kamar adalah ujung tombak perjuangan Hadratussyaikh KH Muhammad Hasyim Asy’ari. Jika kondisi kamar santri tertata dengan baik, maka pesan pendidikan dan pembinaan di pondok akan jauh lebih mudah diterima oleh santri,” tegas Ustadz Mulya Afif.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Selain peran filosofis, narasumber juga merinci fungsi teknis pembina yang meliputi pengawasan aktivitas, pendampingan perkembangan santri, hingga fungsi administrasi dan pelaporan. Lebih jauh, pembina dituntut memiliki kapasitas sebagai mediator, konselor, serta pemberi pelayanan kesehatan dasar bagi santri di asrama.

Guna menguji kesiapan mental dan manajerial, kegiatan ini dilanjutkan dengan sesi Diskusi Kelompok Terfokus (FGD). Para peserta dihadapkan pada berbagai studi kasus problematika lapangan untuk didiskusikan solusinya secara kolektif. Hal ini bertujuan agar para calon pembina memiliki bekal praktis dan taktis saat menghadapi dinamika santri yang beragam.

Diskusi yang berlangsung interaktif ini ditutup dengan pesan motivasi yang menggugah semangat pengabdian. Ustadz Mulya Afif mengingatkan bahwa otoritas seorang pembina bukan dibangun di atas rasa takut, melainkan di atas kepercayaan.

“Menjadi pembina bukan tentang siapa yang ditakuti, namun siapa yang didengar. Hakikatnya, kita mengabdi sebagai pembina adalah mengabdi kepada Hadratussyaikh, sekaligus mengabdi kepada negara karena kita ikut andil mendidik generasi bangsa,” pungkasnya.

Kegiatan diklat ini diharapkan mampu melahirkan kader pembina yang tidak hanya disiplin secara administratif, tetapi juga memiliki kedekatan emosional dan spiritual dengan para santri sesuai dengan khitah Pesantren Tebuireng.

Baca Juga: Gus Glory: Santri Jangan Hanya Jago Syarah Kitab, Harus Jadi Pelayan Umat


Pewarta: Fatih Maulana

Editor: Sutan



Berita Terkini

Berita Terbaru

Daftar Terbaru

News

Jasa Impor China

Berita Terbaru

Flash News

RuangJP

Pemilu

Berita Terkini

Prediksi Bola

Technology

Otomotif

Berita Terbaru

Teknologi

Berita terkini

Berita Pemilu

Berita Teknologi

Hiburan

master Slote

Berita Terkini

Pendidikan

Resep

Jasa Backlink

Slot gacor terpercaya

Anime Batch