“Kalau semua pergi, siapa yang merawat sawah ini?” katanya suatu malam kepada putri tercintanya. Ruang itu rasangat hangat, walau mereka hanya mampu makan nasi dengan lauk tempe goreng dibubuhi sambal terasi.
Pagi selalu datang bersama kabut tipis yang menggantung di atas pematang sawah. Dari celah dinding anyaman bambu, cahaya matahari menyusup pelan ke dalam rumah kecil milik Pak Fahruddin, dan anak gadisnya, Nazila. Rumah itu berdiri sederhana, beratap seng yang berisik saat hujan turun, dan berlantai tanah yang mengeras karena sering disapu air.
Nazila terbangun sejak azan subuh berkumandang dari musala di ujung desa. Usai salat, ia membantu ayahnya menyiapkan dagangan beberapa ikat daun kangkung, bayam, dan daun singkong yang ditanam di pekarangan sempit mereka. Tidak banyak, tapi cukup untuk dititipkan di toko Bu Karimah.
“Zila, jangan lupa nanti sepulang sekolah kamu ke rumah Pak Lurah. Katanya ada pelatihan menjahit dari dinas,” ujar Ayahnya sambil mengikat sayur dengan tali rafia.
Nazila mengangguk. Wajahnya yang masih belia menyimpan keteguhan yang jarang dimiliki anak seusianya. Sejak ibunya meninggal dua tahun lalu karena sakit yang tak sempat ditangani di rumah sakit, Nazila menjadi teman berbagi sekaligus penguat bagi ayahnya.
Lelaki yang berasal dari Jawa Timur itu, bukan lelaki berpendidikan tinggi. Ia hanya lulusan sekolah dasar. Namun ia memiliki satu keahlian yang diwariskan ayahnya, memperbaiki alat-alat pertanian. Cangkul patah, sabit tumpul, hingga mesin penggiling padi yang macet sering dibawakan warga kepadanya. Upahnya tak menentu kadang uang, kadang beras, kadang sekadar ucapan terima kasih.

***
Realitas ekonomi desa tak pernah mudah. Harga pupuk naik, hasil panen sering tak sebanding dengan biaya produksi. Banyak pemuda memilih merantau ke kota, bekerja di pabrik atau menjadi buruh bangunan. Desa perlahan kehilangan tenaga mudanya.
Namun bagi lelaki yang akrab disapa Uddin, ia memilih bertahan.
“Kalau semua pergi, siapa yang merawat sawah ini?” katanya suatu malam kepada putri tercintanya. Ruang itu rasangat hangat, walau mereka hanya mampu makan nasi dengan lauk tempe goreng dibubuhi sambal terasi.
Nazila memahami pilihan ayahnya. Ia sendiri menyimpan mimpi besar ingin menjadi guru keterampilan di desa agar anak-anak tidak hanya pandai membaca dan berhitung, tetapi juga memiliki skill yang bisa menghidupi mereka.
Di sekolah, Nazila dikenal cerdas. Ia sering membantu teman-temannya memahami pelajaran matematika. Gurunya, Bu Ratna, pernah berkata, “Ilmu itu bukan hanya untuk lulus ujian, Zila. Ilmu itu untuk mengubah hidup.” Kalimat itu melekat kuat di benaknya.
Sepulang sekolah, Nazila bergegas ke balai desa. Pelatihan menjahit itu diikuti ibu-ibu dan beberapa remaja putri. Instruktur dari kota mengajarkan cara mengukur pola, mengoperasikan mesin jahit, dan menghitung harga produksi sederhana.
Nazila mencatat setiap penjelasan dengan cermat. Ia membayangkan suatu saat bisa membuka usaha menjahit kecil-kecilan di rumahnya.
Sementara itu, Ayahnya menerima panggilan dari Pak Lurah. Mesin perontok padi milik kelompok tani rusak menjelang musim panen. Jika tak segera diperbaiki, hasil panen bisa terlambat dan gabah membusuk.
Di bengkel kecilnya, yang sebenarnya hanya teras rumah dengan meja kayu tua, Pak Uddin membongkar mesin itu dengan hati-hati. Tangannya cekatan meski usia mulai merambat senja. Ia memeriksa baut, roda gigi, dan rantai yang aus.
“Kalau beli baru mahal sekali, Pak,” keluh salah satu petani.
Uddin tersenyum tipis. “Selama masih bisa diperbaiki, kenapa harus beli baru?”
Ia mengganti beberapa bagian dengan suku cadang bekas yang masih layak pakai. Ia mengelas rangka yang retak dan membersihkan mesin dari karat. Butuh dua hari penuh, tapi akhirnya mesin itu kembali menyala dengan suara lebih halus.
Upah yang diterimanya tak seberapa. Namun rasa hormat warga menjadi kekayaan tersendiri.
***
Malam itu, Nazila memperlihatkan hasil jahitan pertamanya, sebuah tas kain sederhana.
“Bagus sekali, Zil,” ujar Fahruddin bangga. “Kalau kau tekun, ini bisa jadi sumber penghasilan.”
Nazila tersenyum. “Ayah juga hebat. Setiap orang membutuhkan Ayah.”
Mereka saling menguatkan dalam diam.
Namun ujian tak berhenti. Musim kemarau panjang datang, membuat sumur-sumur mengering. Tanaman sayur di pekarangan mulai layu. Penghasilan mereka menurun drastis.
Beberapa tetangga menyarankan Fahruddin menjual rumah dan ikut merantau ke kota.
“Kota belum tentu ramah pada kita,” jawabnya pelan.
Nazila melihat kegelisahan di wajah ayahnya. Dia kemudian mengusulkan sesuatu.
“Ayah, bagaimana kalau kita manfaatkan halaman belakang untuk beternak ayam kampung? Waktu pelatihan, Pak Lurah bilang ada bantuan bibit untuk keluarga kurang mampu.”
Fahruddin terdiam sejenak, lalu mengangguk. “Kita coba.”
Mereka membangun kandang sederhana dari bambu bekas. Nazila belajar dari buku perpustakaan tentang cara merawat ayam, menghitung biaya pakan, dan memprediksi keuntungan. Fahruddin memanfaatkan sisa kayu dan kawat untuk memperkuat kandang.
Awalnya hanya sepuluh ekor. Beberapa mati karena cuaca panas. Namun mereka tak menyerah. Nazila mencatat setiap pengeluaran dan pemasukan di buku kecil. Ia belajar bahwa usaha butuh kesabaran dan evaluasi.
Pelan-pelan, jumlah ayam bertambah. Telur-telur mulai bisa dijual ke warung. Tak besar, tapi cukup menutup kebutuhan harian.
Disela kesibukannya, Nazila tetap giat belajar. Dia membantu anak-anak tetangga mengerjakan pekerjaan rumahnya dengan imbalan sepeser pun atau sekadar camilan. Ia sadar ilmu yang dibagikan tidak akan berkurang.
Suatu sore, Bu Ratna datang ke rumah mereka.
“Zila, ada beasiswa untuk siswa berprestasi dari kabupaten. Kau harus mendaftar.”
Nazila memandang ayahnya. Ayahnya mengangguk dengan tegas. “Peluang tidak datang dua kali.”
Prosesnya tak mudah. Mereka harus mengurus berkas ke kecamatan yang jaraknya belasan kilometer. Dengan sepeda motor tua yang sering mogok, Fahruddin mengantar Nazila.
***
Beberapa bulan kemudian, kabar itu datang Nazila Faradisa diterima sebagai penerima beasiswa penuh untuk melanjutkan sekolah ke SMK jurusan tata busana di kota kabupaten.
Tangis haru pecah di rumah bambu itu.
“Ilmu adalah harta yang tak bisa dicuri,” kata Ayahnya lirih.
Nazila memeluk ayahnya dengan erat. “Aku akan kembali, Yah. Aku ingin membangun desa ini.”
Waktu berjalan. Nazila belajar keras di kota, namun tak pernah melupakan akar desanya. Setiap libur, ia pulang membawa pengetahuan baru, tentang desain pakaian, manajemen usaha kecil, dan pemasaran lewat telepon pintar.
Ia membantu ibu-ibu desa membuat produk jahitan yang lebih rapi dan bernilai jual tinggi. Bersama ayahnya, ia mengembangkan usaha ternak ayam dengan pencatatan yang lebih sistematis.
Desa Sumbermulyo mungkin masih sederhana. Kemiskinan belum sepenuhnya pergi. Namun di antara pematang sawah dan rumah-rumah bambu, ada lentera kecil yang menyala, lentera ilmu dan keterampilan. Di desa itu hidup memang keras. Tapi selama ada kemauan belajar dan memanfaatkan skill yang dimiliki, harapan selalu punya tempat untuk pulang.
Penulis: Ummu Masrurah
Editor: Rara Zarary
Berita Terkini
Berita Terbaru
Daftar Terbaru
News
Jasa Impor China
Berita Terbaru
Flash News
RuangJP
Pemilu
Berita Terkini
Prediksi Bola
Technology
Otomotif
Berita Terbaru
Teknologi
Berita terkini
Berita Pemilu
Berita Teknologi
Hiburan
master Slote
Berita Terkini
Pendidikan
Resep
Jasa Backlink
Slot gacor terpercaya
Anime Batch